Deforestasi di Merauke: Kuskus Papua Kehilangan Rumah, Populasi Terancam
Baca dalam 60 detik
- Video viral memperlihatkan kuskus berjuang bertahan di atas pohon yang ditebang di Merauke, memicu perhatian pada deforestasi di Papua Selatan.
- Kuskus, marsupial endemik Indonesia Timur, menghadapi ancaman serius akibat hilangnya habitat dan perburuan, dengan status rentan menurut IUCN.
- Krisis ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan penegakan hukum lingkungan dan praktik pembangunan berkelanjutan untuk melindungi satwa liar Papua.

Rekaman video yang beredar luas sejak pertengahan tahun ini memperlihatkan seekor kuskus berwarna emas dengan totol putih yang berusaha bertahan di atas dahan pohon yang roboh, sementara alat berat terus bekerja menebang hutan di sekitarnya di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Adegan ini, yang juga terekam dalam video lain pada Mei 2026, telah memantik simpati warganet dan menyoroti dampak nyata pembukaan lahan terhadap satwa endemik Papua.
Kuskus, marsupial arboreal yang kerap disangka primata karena gerakannya yang lambat dan matanya yang besar, adalah penghuni kanopi hutan hujan Australasia. Di Indonesia, hewan ini tersebar di Papua, Maluku, Sulawesi, dan Timor, dan memainkan peran penting dalam ekosistem sebagai penebar benih. Namun, hilangnya habitat akibat deforestasi dan pembangunan infrastruktur menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup mereka.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), populasi kuskus di Indonesia Timur terus menurun. Lebih dari 18 jenis kuskus di Indonesia berstatus dilindungi, dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat kuskus dalam Daftar Merah sebagai spesies rentan. Spesies seperti kuskus totol (Spilocuscus maculatus) dan kuskus timur (Phalanger orientalis) yang terekam dalam video memiliki wilayah jelajah luas, namun tetap bergantung pada hutan primer dan sekunder untuk bertahan.
Kawasan Merauke, yang merupakan bagian dari lanskap basah terkaya di Papua, menjadi saksi bisu dari konflik antara pembangunan dan konservasi. Mozaik hutan savana yang menjadi rumah kuskus semakin terfragmentasi oleh aktivitas pembukaan lahan skala besar. Penelitian oleh Joseph, Latupapua, dan Sahusilawane (2024) menunjukkan bahwa kuskus lebih banyak ditemukan di hutan sekunder, yang menyediakan sumber pakan melimpah, namun kawasan ini juga yang paling rentan terhadap alih fungsi lahan.
Video viral ini bukan sekadar tontonan emosional, melainkan cermin dari krisis ekologi yang lebih luas. Meskipun kuskus di Merauke bukan spesies endemik seperti kuskus waigeo di Raja Ampat, keberadaan mereka tetap vital bagi kesehatan hutan. Pertanyaannya, akankah pemerintah dan pelaku industri mempertimbangkan dampak lingkungan sebelum membuka lahan baru? Atau akankah kita terus menyaksikan satwa liar kehilangan rumahnya di depan mata?
Kuskus adalah hewan soliter dan nokturnal yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kanopi pohon. Mereka memiliki adaptasi unik seperti ekor yang dapat memegang dan cakar yang kuat, memungkinkan mereka bergerak lincah di antara cabang. Namun, ketika pohon-pohon ditebang, mereka kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan, memaksa mereka turun ke tanah atau terdampar di sisa-sisa dahan, seperti yang terlihat dalam video.
Peran kuskus dalam ekosistem tidak bisa dianggap remeh. Sebagai pemakan buah, mereka membantu regenerasi hutan dengan menyebarkan biji. Mereka juga menjadi mangsa bagi predator alami seperti ular sanca dan burung pemangsa, menjaga keseimbangan rantai makanan. Kepunahan kuskus akan mengganggu keseimbangan ekosistem hutan Papua yang sudah rapuh.
Ancaman terhadap kuskus tidak hanya datang dari deforestasi, tetapi juga perburuan liar dan perdagangan ilegal. Meskipun telah dilindungi oleh undang-undang, penegakan hukum di lapangan masih lemah. Diperlukan kesadaran kolektif dan tindakan nyata dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat, untuk memastikan bahwa pembangunan tidak mengorbankan kekayaan alam yang tak ternilai ini.



