Gempa NTT: Pulau Palue Terisolasi, Satu Warga Tewas dan 141 Rumah Hancur
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 7,7 di Nagekeo merenggut satu korban jiwa di Pulau Palue dan melumpuhkan infrastruktur vital.
- Pulau Palue kini gelap total dan terputus komunikasi, memaksa petugas berjalan kaki untuk menjangkau wilayah terdampak.
- Bantuan air bersih dan pangan mendesak dikirim, sementara pendataan korban masih terus berjalan.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang perairan Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) meninggalkan duka mendalam di Pulau Palue, Kabupaten Sikka. Seorang warga lanjut usia dilaporkan tewas, sementara lebih dari seratus rumah roboh, menjadikan pulau ini salah satu titik terdampak paling parah.
Berdasarkan laporan Camat Palue, Rudolfus Riba, korban jiwa adalah Yustina Sugo, 80 tahun, warga Desa Nitung Lea. Selain itu, tujuh warga dari Desa Ladolaka, Maluriwu, dan Reruwairere menderita luka berat. Data sementara mencatat 141 unit rumah di enam desa—Nitung, Rokirole, Ladolaka, Lidi, Maluriwu, dan Reruwairere—mengalami rusak berat. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah seiring menjangkaunya seluruh wilayah.
Dampak gempa tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga melumpuhkan layanan dasar. Jaringan listrik PLN di Kecamatan Palue padam total akibat kerusakan infrastruktur, yang berimbas pada terputusnya jaringan telekomunikasi Telkomsel. Akibatnya, sebagian besar wilayah Palue kini gelap gulita dan warga kehilangan akses komunikasi. Kondisi ini mempersulit koordinasi bantuan dan pendataan korban.
Rudolfus menjelaskan bahwa tim gabungan masih kesulitan menjangkau beberapa desa karena akses jalan tertutup longsor. Petugas terpaksa berjalan kaki untuk mencapai lokasi terdampak. "Pendataan dan pemantauan akan terus dilakukan. Data korban, kerusakan rumah, fasilitas umum, dan akses jalan masih dapat berkembang setelah seluruh wilayah terdampak berhasil dijangkau," ujarnya dalam laporan yang diterima Minggu (16/8/2026).
Di tengah keterbatasan, warga Palue memilih bertahan di luar rumah untuk mengungsi secara mandiri. Anggota DPRD Sikka asal Palue yang berada di lokasi menyampaikan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah air minum dan bahan makanan. Ia mendesak Pemerintah Daerah Sikka segera turun tangan. "Mohon Pemda Sikka segera turun ke Palue, ada satu warga meninggal akibat gempa. Rumah-rumah banyak yang hancur dan warga terluka," ungkapnya.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa NTT berada di kawasan rawan gempa. Sebagai daerah kepulauan, aksesibilitas menjadi tantangan utama dalam penanganan bencana. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan jalur logistik dan komunikasi darurat dapat segera dipulihkan agar bantuan tepat sasaran.
Hingga berita ini diturunkan, upaya evakuasi dan pendataan masih berlangsung. Pertanyaan besar yang menggantung: akankah respons cepat pemerintah mampu mencegah meluasnya dampak kemanusiaan di Pulau Palue?



