Piala Dunia 2026: Inggris Lolos, Tantangan Berat di Meksiko Menanti
Baca dalam 60 detik
- Timnas Inggris menang dramatis atas DR Kongo berkat dua gol Harry Kane, meski sempat tertinggal dan kontroversi penalti tak diberikan.
- Performa kiper DR Kongo, Lionel Mpasi, menjadi sorotan dengan serangkaian penyelamatan gemilang yang nyaris menggagalkan Inggris.
- Laga berikutnya melawan Meksiko di kandang lawan diprediksi lebih berat, dengan faktor panas, ketinggian, dan atmosfer fanatik.

Harry Kane kembali menjadi pahlawan Inggris setelah dua golnya memastikan kemenangan 2-1 atas DR Kongo di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Minggu (30/6). Namun, laga yang berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, itu jauh dari kata mudah—DR Kongo nyaris membuat kejutan besar sebelum akhirnya takluk.
DR Kongo unggul lebih dulu melalui gol cepat Yoane Wissa, yang kemudian nyaris menggandakan keunggulan andai sepakannya tidak membentur tiang. Kiper Lionel Mpasi tampil luar biasa dengan menggagalkan peluang emas Jude Bellingham dan Marcus Rashford. Kontroversi muncul saat wasit tak meninjau ulang insiden penalti yang dialami Kane, keputusan yang disebut 'aneh' oleh sejumlah pengamat.
Kane, yang kini telah mencetak 13 gol sepanjang karier Piala Dunia—melampaui catatan Pele—menyelesaikan laga dengan dua gol di babak kedua. Mantan striker Inggris, Alan Shearer, dalam analisisnya menilai Kane memang sengaja menunggu kontak, namun tidak secara aktif mencari pelanggaran. "Dalam situasi seperti itu saya akan memberikan penalti, tetapi jika Kane sengaja menggerakkan kaki ke arah kiper, saya setuju dengan wasit," ujarnya.
Kemenangan ini membawa Inggris ke perempat final, di mana mereka akan menghadapi Meksiko di Estadio Azteca. Faktor lingkungan menjadi perhatian serius: suhu panas dan ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut bisa menjadi 'musuh' tersendiri. Meksiko juga dikenal memiliki basis suporter fanatik yang mampu menekan tim tamu. "Jika mereka mengira DR Kongo sulit, mereka belum melihat apa-apa," komentar Shearer, merujuk pada tantangan yang menanti.
Pertandingan lain juga menyajikan drama. Belgia bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menyingkirkan Senegal melalui penalti di detik akhir perpanjangan waktu. Sementara itu, Amerika Serikat yang bermain dengan 10 orang berhasil mengalahkan Bosnia dan Herzegovina, memicu euforia di kalangan penggemar tuan rumah. Namun, atmosfer di Meksiko diperkirakan jauh lebih intens, dengan tradisi sepak bola yang sudah mengakar kuat.
Dari sisi taktik, Piala Dunia ini menunjukkan keragaman gaya yang menyegarkan. Paraguay tampil dengan formasi 4-4-2 klasik dan tekel keras ala 1970-an, sementara Jerman mengandalkan bola-bola panjang (POMO) yang membuat Pep Guardiola mungkin gelisah. Perpaduan budaya sepak bola ini membuat turnamen semakin menarik, dan Inggris harus siap menghadapi pendekatan berbeda dari Meksiko yang mengandalkan kecepatan dan kreativitas.
Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 menjadi tontonan yang kaya akan variasi taktik dan semangat underdog. Pelajaran berharga bisa diambil dari kegigihan DR Kongo dan Paraguay, yang membuktikan bahwa sepak bola tidak melulu soal penguasaan bola. Pertanyaan besarnya: mampukah Inggris menaklukkan Meksiko di kandangnya, atau justru menjadi korban berikut dari kejutan yang sudah menjadi ciri khas turnamen ini?



