Olivia Bowen: Love Island Jadi Terapi Paparan untuk Gangguan Makan
Baca dalam 60 detik
- Mantan kontestan Love Island Olivia Bowen mengaku acara realitas itu membantunya mengatasi gangguan makan yang membuatnya takut makan di depan orang lain.
- Bowen menyebut pengalaman di villa sebagai 'terapi paparan' yang memaksanya menghadapi kecemasan terkait kontrol dan emosi.
- Kisahnya menyoroti bagaimana tekanan sosial di reality show bisa berdampak ganda pada kesehatan mental peserta.

Mantan bintang Love Island, Olivia Bowen, mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam acara realitas populer ITV itu justru menjadi terapi tak terduga bagi gangguan makan yang dideritanya. Dalam wawancara di Good Morning Britain, Kamis (2/7/2026), perempuan 32 tahun itu menceritakan bagaimana tekanan untuk tampil di hadapan kamera dan sesama kontestan memaksanya menghadapi ketakutannya terhadap makanan.
Bowen menjelaskan bahwa gangguan makannya bermanifestasi dalam bentuk keengganan ekstrem untuk terlihat sedang makan. "Saya tidak bisa meletakkan makanan di piring saya sendiri," ujarnya. Kondisi ini menjadi tantangan besar di Love Island, di mana para peserta diharuskan menyajikan makanan sendiri saat jam makan. Bowen mengakui bahwa situasi tersebut bertindak seperti "terapi paparan" yang membantunya perlahan mengatasi kecemasan.
Menurut Bowen, gangguan makan yang dialaminya berkaitan erat dengan kebutuhan akan kontrol dan cara ia memproses emosi. "Ini tidak selalu tentang makanan itu sendiri, hanya bermanifestasi dengan cara tertentu," tambahnya. Ia juga mengungkapkan bahwa saat memasuki villa Love Island, ia merasa "seperti kekasih yang tersakiti" dan skeptis terhadap hubungan karena pengalaman masa lalu. Namun, justru di sana ia bertemu suaminya, Alex Bowen, yang kini telah memberinya dua anak: Abel (4 tahun) dan Siena (lahir Agustus 2025).
Kisah Bowen menyoroti sisi gelap dari reality show yang seringkali menempatkan peserta dalam tekanan psikologis tinggi. Di satu sisi, acara seperti Love Island dapat menjadi katalis untuk perubahan positif, seperti yang dialami Bowen. Namun, di sisi lain, paparan terus-menerus dan pengawasan publik juga berisiko memperburuk kondisi mental yang sudah ada. Fenomena ini relevan di Indonesia, di mana popularitas acara realitas serupa juga meningkat, namun kesadaran akan kesehatan mental peserta masih minim. Belum ada regulasi khusus yang mewajibkan pendampingan psikologis bagi kontestan, meskipun beberapa rumah produksi mulai menerapkan screening awal.
Bowen sendiri mengaku bersyukur atas pengalaman itu. "Saya merasa sangat beruntung bisa berada di sini hari ini... Love Island memberi saya keluarga, dua bayi cantik, dan seorang suami," katanya. Ia juga tidak menutup kemungkinan mendukung anak-anaknya jika kelak ingin mengikuti jejaknya di acara serupa. "Saya ingin mendukung anak-anak saya apa pun yang mereka lakukan," ujarnya sambil tertawa.
Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah industri hiburan Tanah Air siap memberikan perlindungan yang memadai bagi peserta reality show? Dengan semakin maraknya program serupa, kebutuhan akan standar etika dan dukungan psikologis menjadi mendesak. Kisah Olivia Bowen setidaknya menjadi pengingat bahwa di balik layar kaca, ada manusia dengan kerentanan yang perlu dilindungi.



