Mantan Manajer Timnas Jepang yang Selamat dari Bom Hiroshima Meninggal di Usia 94 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Sachio Shimomura, arsitek kesuksesan Sanfrecce Hiroshima di era 60-an, tutup usia pada 94 tahun.
- Karier kepelatihannya diwarnai torehan lima gelar liga dan tiga Piala Kaisar, sebelum menukangi tim nasional.
- Kisah hidupnya menjadi pengingat akan trauma perang dan dedikasinya pada sepak bola Jepang.

Dunia sepak bola Jepang kembali berduka. Sachio Shimomura, mantan pelatih tim nasional yang juga penyintas bom atom Hiroshima, menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu (17/8) di usia 94 tahun. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), menandai berakhirnya era kepelatihan yang penuh dedikasi dan sejarah kelam yang tak terlupakan.
Shimomura bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Sebagai kiper tim nasional di era 1950-an, ia kemudian beralih menjadi arsitek kesuksesan Toyo Kogyo—yang kini kita kenal sebagai Sanfrecce Hiroshima—sejak 1965. Di bawah arahannya, klub tersebut meraih lima gelar Japan Soccer League dan tiga Piala Kaisar, sebuah prestasi yang mengukuhkan namanya sebagai salah satu pelatih paling berpengaruh di negeri Sakura.
Kiprahnya di panggung nasional berlanjut ketika ia memegang kendali timnas Jepang pada periode 1979–1980. Meski singkat, masa kepelatihannya menjadi fondasi bagi perkembangan sepak bola Jepang yang kemudian melesat di dekade-dekade berikutnya. Namun, di balik gemerlap trofi, ada luka mendalam yang ia bawa seumur hidup: selamat dari bom atom Hiroshima pada 1945.
Di masa tuanya, Shimomura tak pernah lelah berbagi kisah tentang kehancuran Hiroshima kepada generasi muda. Ia kerap mengunjungi sekolah lamanya, Shudo Junior High School, untuk menceritakan pengalaman pahit yang tak ingin ia ulangi. Baginya, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan medium untuk menyampaikan pesan perdamaian.
Kepergian Shimomura meninggalkan warisan yang kompleks. Di satu sisi, ia adalah simbol kebangkitan sepak bola Jepang pasca-perang; di sisi lain, ia adalah saksi hidup keganasan perang. Bagi Indonesia, kisahnya relevan dengan semangat sportivitas dan rekonsiliasi. Seperti halnya Jepang yang bangkit dari keterpurukan, sepak bola Indonesia pun tengah berupaya meninggalkan masa kelam dan membangun prestasi di kancah internasional.
"Shimomura adalah jembatan antara masa lalu yang kelam dan masa depan yang cerah. Ia membuktikan bahwa olahraga bisa menjadi alat pemersatu dan penyembuh," ujar seorang analis olahraga Jepang yang enggan disebut namanya.
Kini, pertanyaannya adalah: akankah generasi penerus sepak bola Jepang—dan juga Indonesia—mampu meneruskan semangat perjuangan Shimomura? Atau justru melupakan sejarah dan hanya fokus pada kejayaan sesaat? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: nama Sachio Shimomura akan selalu dikenang sebagai pahlawan sepak bola dan pejuang perdamaian.



