Tara Davis-Woodhall: Juara Olimpiade yang Berjuang Melawan Depresi dan Kecemasan
Baca dalam 60 detik
- Atlet lompat jauh AS, Tara Davis-Woodhall, mengungkapkan perjuangannya melawan depresi dan kecemasan usai menjuarai Prefontaine Classic 2026.
- Kemenangan tipis 1 cm atas Larissa Iapichino menjadi simbol ketangguhan mental di tengah tekanan psikologis yang berat.
- Pengakuan Davis-Woodhall menyoroti pentingnya dukungan kesehatan mental bagi atlet elite, relevan dengan fenomena serupa di Indonesia.

Di balik sorak sorai kemenangan di Prefontaine Classic, Eugene, Oregon, akhir pekan lalu, tersembunyi pergulatan batin yang nyaris tak terlihat. Tara Davis-Woodhall, peraih medali emas Olimpiade Paris 2024 dan juara dunia lompat jauh, mengakui bahwa minggu yang ia lalui sangat berat—bukan karena lawan, melainkan karena depresi dan kecemasan yang menghantuinya.
Davis-Woodhall berhasil mempertahankan gelarnya di ajang Diamond League tersebut dengan lompatan 7,13 meter, hanya unggul satu sentimeter dari atlet Italia, Larissa Iapichino. Namun, angka itu bukan sekadar catatan prestasi. "Hanya untuk sampai di sini saja sudah perjuangan minggu ini. Kami menghadapi masalah kesehatan mental. Saya mengalami depresi, kecemasan. Minggu ini benar-benar sulit," ujarnya usai pertandingan, seperti dikutip dari Channel News Asia.
Atlet berusia 27 tahun itu bukan pertama kali bicara terbuka tentang kesehatan mental. Sebelumnya, ia pernah mengaku sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan olahraga yang membesarkan namanya. Kemenangan di Eugene, baginya, lebih dari sekadar angka: "Saya tidak bisa membayangkan bisa berada di sini. Fakta bahwa saya muncul hari ini, bahwa saya memberi diri saya kesempatan, itu sangat besar. Lalu menang? Itu mengingatkan saya bahwa saya hanya perlu memberi diri saya kesempatan setiap saat."
Kisah Davis-Woodhall menjadi pengingat bahwa tekanan di puncak prestasi seringkali tidak kasatmata. Di Indonesia, fenomena serupa mulai mendapat perhatian. Beberapa atlet nasional, seperti pebulu tangkis dan pesepak bola, pernah mengaku mengalami kecemasan berlebihan menjelang pertandingan besar. Namun, stigma masih membayangi: banyak yang enggan bicara terbuka karena takut dianggap lemah.
Psikolog olahraga dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Kurniawan, menilai bahwa pengakuan atlet sekelas Davis-Woodhall bisa menjadi katalis perubahan. "Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental atlet masih rendah. Banyak yang menganggap itu bagian dari risiko profesi. Padahal, jika tidak ditangani, bisa berujung pada penurunan performa atau bahkan pensiun dini," jelasnya.
Davis-Woodhall sendiri memilih untuk tidak menyerah. Ia terus berlatih dan bertanding, meski harus berperang melawan pikirannya sendiri. "Saya hanya perlu memberi diri saya kesempatan setiap kali," katanya. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi mereka yang bergulat dengan depresi, itu adalah medali yang paling berharga.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah dunia olahraga—termasuk Indonesia—akan menyediakan lebih banyak ruang bagi atlet untuk berbicara tentang kesehatan mental tanpa rasa takut? Atau akankah kisah seperti Davis-Woodhall hanya menjadi pengecualian yang menginspirasi, bukan norma yang didukung sistem?



