Kereta Bawang Jepang Terancam Berhenti, Pasokan Sayur ke Pasar Asia Bisa Terganggu
Baca dalam 60 detik
- Rute kereta lokal di Hokkaido yang menjadi tulang punggung distribusi bawang merah berpotensi dihapus karena terus merugi.
- Jika jalur Abashiri–Shin-Asahikawa ditutup, sekitar 29 ribu ton bawang per tahun terancam tidak bisa dikirim ke Tokyo dan Kyushu.
- Keputusan operator KA Hokkaido akan menentukan masa depan logistik pertanian Jepang dan bisa memicu kenaikan harga bawang di pasar domestik.

Jaringan kereta api Jepang yang selama ini menjadi urat nadi distribusi bawang merah dari Hokkaido ke seluruh negeri tengah berada di ujung tanduk. Hokkaido Railway Co., operator kereta api di wilayah utara tersebut, tengah mengkaji ulang delapan rute yang tidak menguntungkan, termasuk jalur lokal yang menghubungkan Abashiri dan Shin-Asahikawa. Padahal, jalur ini merupakan satu-satunya jalur kereta yang mampu mengangkut bawang dalam jumlah besar dari Kitami, sentra produksi bawang terbesar di Jepang, menuju Sapporo dan kemudian ke berbagai kota besar lain.
Data internal operator menunjukkan bahwa pada tahun fiskal 2025, sekitar 28.435 ton bawang berhasil diangkut melalui rel kereta api nasional. Dari jumlah tersebut, 8.410 ton atau hampir 30 persennya dikirim ke Tokyo dan sekitarnya, sementara wilayah Kyushu menerima 5.945 ton atau sekitar 21 persen. Angka-angka ini menunjukkan betapa vitalnya peran kereta api dalam menjaga pasokan bawang tetap stabil dan harga tetap terjangkau bagi konsumen Jepang.
Namun, di balik peran strategisnya, jalur Abashiri–Shin-Asahikawa justru menjadi salah satu penyumbang kerugian terbesar. Bersama tujuh rute lain yang sedang dievaluasi, total kerugian operasional mencapai 15,5 miliar yen atau sekitar 97,3 juta dolar AS pada tahun fiskal 2025. Khusus untuk jalur yang menjadi tulang punggung distribusi bawang ini, kerugiannya mencapai 5,2 miliar yen. Kondisi ini memaksa operator untuk mencari solusi, termasuk meminta dukungan pemerintah daerah dalam pengelolaan infrastruktur seperti rel dan stasiun, namun upaya tersebut tampaknya belum membuahkan hasil.
Para petani di Kitami, yang memproduksi sekitar 20 persen dari total bawang nasional, mengaku khawatir dengan masa depan transportasi ini. Hideyuki Utagawa, seorang petani bawang di kawasan tersebut, mengungkapkan bahwa musim panen tahun ini adalah yang terbaik dalam empat tahun terakhir. "Cuaca mendukung dan kami mendapat hasil panen yang bagus untuk pertama kalinya dalam empat tahun," ujarnya. Namun, kebahagiaan itu diiringi kecemasan karena jika jalur kereta ditutup, mereka tidak punya alternatif logistik yang efisien.
Perbandingan biaya antara kereta api dan truk menjadi faktor kunci. Kereta api mampu mengangkut bawang dalam volume jauh lebih besar dengan biaya lebih rendah dibandingkan truk. Seorang pejabat perusahaan angkutan barang menegaskan, "Kami tidak akan bisa mengirim bawang ke daratan utama tanpa jalur kereta ini." Pernyataan ini disampaikan menjelang dimulainya operasi kereta bawang tahun ini pada Senin, menyoroti ketergantungan yang sangat tinggi pada moda transportasi ini.
Konteks Indonesia: Meski berita ini berpusat di Jepang, ada pelajaran penting bagi Indonesia yang juga bergantung pada logistik untuk komoditas pertanian. Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam distribusi bawang merah, terutama dari sentra produksi seperti Brebes, Jawa Tengah, ke pasar-pasar besar di Jakarta dan luar Jawa. Biaya logistik yang tinggi sering menjadi penyebab fluktuasi harga bawang di dalam negeri. Jika Jepang, dengan infrastruktur kereta api yang maju, masih kesulitan mempertahankan rute logistik pertanian, maka Indonesia perlu lebih serius mengembangkan moda transportasi alternatif yang efisien untuk menekan biaya distribusi dan menjaga stabilitas harga pangan.
Ke depan, keputusan Hokkaido Railway Co. akan menjadi ujian bagi kebijakan transportasi pertanian Jepang. Apakah pemerintah akan turun tangan menyelamatkan rute ini, atau membiarkan pasar menentukan nasibnya? Jika rute ini ditutup, bukan hanya petani Kitami yang akan merugi, tetapi juga konsumen di Tokyo dan Kyushu yang selama ini menikmati bawang berkualitas dengan harga terjangkau. Pertanyaannya, apakah Jepang siap kehilangan salah satu jalur logistik pertanian terpentingnya demi efisiensi fiskal?



