La Petite Manis: Kue Indonesia yang Menggoda Paris, Antrean Mengular di Rue Saint-Honore
Baca dalam 60 detik
- Toko kue Franco-Indonesia di Paris, La Petite Manis, ludes terjual setiap hari sebelum pukul 14.00, bukti bahan lokal Indonesia mampu bersaing di ibu kota pastry dunia.
- Didukung Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, toko ini mengusung strategi 'klasik dulu, baru eksperimen' untuk memenangkan hati warga Paris yang dikenal pemilih.
- Ekspansi menu jajanan pasar seperti martabak manis dan kue cubit direncanakan setelah visa tim pastry Indonesia tiba, membuka peluang diplomasi kuliner Nusantara di Eropa.

Di tengah hiruk-pikuk Rue Saint-Honore, Paris, sebuah etalase kaca memamerkan croissant bermentega, shio pan mengkilap, dan pain au chocolat dengan isian cokelat Sulawesi. Ini bukan toko kue biasa; ini La Petite Manis, patisserie yang didirikan oleh pengusaha Indonesia, termasuk pasangan selebriti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Sejak dibuka, toko ini tak pernah sepi: pada jam-jam sibuk, seluruh produksinya habis terjual sebelum pukul dua siang.
Kehadiran La Petite Manis bukan sekadar usaha bisnis, melainkan sebuah pernyataan: bahan-bahan Indonesia layak bersanding dengan yang terbaik di dunia. Paris, dengan standar pastry yang sangat tinggi, dipilih sebagai panggung pembuktian. "Kami sengaja memilih Paris. Ini adalah audiens paling menuntut di dunia untuk kerajinan ini," ujar salah satu pendiri, Kharisma Bibitani. Tantangan justru menjadi daya tarikโjika berhasil di sini, merek ini akan diperhitungkan di mana pun.
Di balik layar, pastry chef Kevin Krisna Pratama, asal Bali, memegang kendali. Ia menggabungkan pelatihan klasik Prancis dengan memori rasa masa kecilnya: kue buatan ibunya untuk upacara adat, jajanan pasar yang akrab di lidahnya. Kevin tidak ingin sekadar menjual 'keunikan Indonesia'. "Kami tidak ingin orang datang karena ini Indonesia. Kami ingin mereka datang karena pastry-nya enak. Bahan Indonesia harus memperkaya, bukan mengganggu," tegasnya. Filosofi ini diterjemahkan dalam menu seperti Cinnamon de Java, brioche dengan kayu manis Jawa dan gula jawa, atau pain au chocolat yang menggunakan cokelat single-origin dari Sulawesi.
Namun, jalan menuju hati warga Paris tidak selalu mulus. Eksperimen awal seperti shio pan dengan rumput laut dan madu kurang diterima. "Terlalu aneh bagi merekaโsalah satu pelanggan bilang itu menjijikkan," kenang Kevin sambil tertawa. Pelajaran berharga pun didapat: kepercayaan harus dibangun perlahan, dimulai dari rasa yang familiar. Kevin juga sangat selektif terhadap bahan baku; ia menolak menggunakan pandan Vietnam dan bersikeras mencari sumber pandan Indonesia yang andal sebelum menambah menu baru. Bahkan untuk pain au chocolat, ia men-temper sendiri cokelat dari produsen Adore Cacao, mencampur varian 58% dan 70% untuk mendapatkan profil rasa yang lebih kompleks.
Respons pasar Paris melampaui ekspektasi. Seorang pelanggan datang empat kali hanya untuk membeli pain au chocolat dan tetap gagalโia marah, tapi Kevin memaklumi. "Dia datang jauh-jauh hanya untuk itu," katanya. Kesuksesan ini membuka peluang lebih besar: setelah visa tim tambahan tiba, La Petite Manis berencana memperkenalkan jajanan pasar seperti martabak manis, kue cubit, dan cendol, dengan sentuhan modern. "Saya ingin berbagi jajanan pasar kami. Ini makanan yang kami tumbuh besar dengannya. Saya ingin menunjukkan pada orang Prancis bahwa ini makanan kami," ujar Kevin penuh semangat.
Bagi Indonesia, cerita La Petite Manis adalah bukti bahwa kuliner Nusantara mampu menembus pasar global paling kompetitif sekalipun. Ini bukan sekadar ekspor produk, melainkan ekspor identitas dan kebanggaan. Kharisma menegaskan, "Indonesia memiliki warisan kuliner yang luar biasa. Tujuan kami adalah menafsirkan ulang elemen-elemen itu dengan rasa hormat dan presisi." Ke depan, para pendiri bercita-cita membuka cabang di kota-kota Eropa lain, bahkan mungkin kembali ke Indonesia. Namun, mereka memilih langkah hati-hati: memantapkan posisi sebagai toko kue lingkungan di Paris terlebih dahulu. "Jika kami cukup beruntung mencapai hari itu, itu karena Paris mengajari kami dengan baik," tutup Kharisma. Pertanyaannya kini: apakah gebrakan ini akan menginspirasi lebih banyak pelaku kuliner Indonesia untuk berani menembus pasar dunia?



