Dortmund Bangkit dari Defisit Dua Gol, Kovač Puas Jelang Lawan Bayern di Supercup
Baca dalam 60 detik
- Dortmund menahan imbang AS Roma 2-2 setelah tertinggal dua gol di sembilan menit pertama laga uji coba.
- Penampilan Konstantinos Karetsas menjadi sorotan; pemain 18 tahun itu nyaris mencetak gol lewat tembakan yang membentur mistar.
- Hasil ini menjadi modal berharga bagi Dortmund menjelang DFL-Supercup melawan Bayern Munchen pada 22 Agustus.

Borussia Dortmund memetik pelajaran berharga dari laga uji coba kontra AS Roma yang berakhir imbang 2-2 di akhir pekan. Tertinggal dua gol hanya dalam sembilan menit pertama, tim asuhan Niko Kovač menunjukkan mental baja dengan menyamakan kedudukan sebelum turun minum. Hasil ini sekaligus menjadi sinyal positif menjelang duel pamungkas melawan Bayern Munchen di DFL-Supercup pekan depan.
Kovač tidak menutupi kekurangan anak asuhnya yang lengah di awal pertandingan. "Pada delapan menit pertama kami benar-benar tidak fokus. Dua kali mati langkah, tetapi setelah itu kami bereaksi dengan sangat baik," ujarnya. Pelatih asal Kroasia itu menilai bangkit dari ketertinggalan dua gol melawan tim Serie A bukan perkara mudah, apalagi Roma tampil dengan intensitas tinggi sejak menit awal.
Gol Julian Ryerson dan Serhou Guirassy menjadi penyeimbang setelah Dortmund sempat tertekan. Namun, yang menarik perhatian adalah aksi Konstantinos Karetsas, rekrutan anyar asal Belgia. Pemain berusia 18 tahun itu tampil penuh percaya diri, sama seperti saat debutnya melawan Arsenal. Sepanjang laga, ia beberapa kali merepotkan pertahanan Roma dan nyaris mencetak gol andai tembakannya tidak membentur mistar gawang.
Karetsas, yang didatangkan dari Genk pada bursa transfer musim panas ini, menjadi salah satu investasi jangka panjang Dortmund. Direktur olahraga Lars Ricken mengakui bahwa uji coba melawan Arsenal dan Roma memberikan gambaran jelas tentang kesiapan tim. "Kami menghadapi dua lawan Eropa yang tangguh, jadi kami menuju Supercup melawan Bayern dengan perasaan yang baik," kata Ricken.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa memanfaatkan pramusim untuk menguji kedalaman skuad. Dortmund, yang musim lalu tampil inkonsisten, mencoba membangun kembali identitas permainan di bawah Kovač. Kehadiran pemain muda seperti Karetsas juga menjadi perhatian, mengingat banyak klub Eropa kini berani memberi menit bermain kepada talenta belia.
Menjelang laga Supercup, Dortmund masih memiliki pekerjaan rumah, terutama dalam hal konsentrasi di awal pertandingan. Melawan Bayern, kesalahan kecil bisa berbuah petaka. Namun, jika mampu tampil seperti saat melawan Roma—khususnya di babak kedua—bukan tidak mungkin Dortmund merebut trofi pertama musim ini. Pertanyaannya, apakah Kovač akan mempertahankan komposisi pemain yang sama atau melakukan rotasi untuk mengoptimalkan performa tim?



