Harimau Putih Pasha di Night Safari Singapura Dieutanasia karena Kanker
Baca dalam 60 detik
- Pasha, harimau putih Bengal berusia 13 tahun, menjalani eutanasia pada 1 Juli 2026 setelah didiagnosis limfoma dan mengalami penurunan kualitas hidup.
- Ia telah dirawat sejak 2026 karena kanker progresif dan osteoarthritis parah, namun pengobatan tidak lagi efektif pada tahap akhir.
- Kepergian Pasha menyisakan Keysa sebagai satu-satunya harimau putih di Mandai Wildlife Group, yang kini fokus pada konservasi harimau Malaya yang terancam punah.

Harimau putih Bengal bernama Pasha, penghuni Night Safari Singapura, menjalani eutanasia pada 1 Juli 2026 setelah berjuang melawan kanker limfoma yang dideritanya sejak tahun lalu. Keputusan sulit ini diambil oleh tim dokter hewan dan perawat satwa setelah kondisi harimau berusia 13 tahun itu terus memburuk dan tidak lagi merespons pengobatan.
Menurut pernyataan Mandai Wildlife Group, pengelola Night Safari, Pasha telah menunjukkan penurunan kesehatan yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Dokter hewan Trent Van Zanten mengungkapkan bahwa tim telah melakukan berbagai upaya perawatan, termasuk terapi paliatif untuk mengendalikan rasa sakit, namun kualitas hidup Pasha dinilai sudah tidak layak dipertahankan. โKami membuat keputusan sulit untuk mencegah penderitaan lebih lanjut,โ ujarnya.
Pasha didiagnosis menderita limfoma, kanker yang bersifat progresif, pada 2026. Selain itu, ia juga memiliki osteoarthritis parah yang mempengaruhi mobilitas dan menyebabkan nyeri kronis. Meskipun sempat ada periode stabil, kondisi harimau jantan ini terus menurun. Tim perawatan memonitor kesejahteraannya secara ketat hingga akhirnya memutuskan eutanasia saat Pasha sudah tidak mampu menikmati hidup.
Lahir di penangkaran, Pasha tiba di Singapura pada 2015 dari Batu Secret Zoo di Indonesia bersama saudarinya, Keysa. Keduanya memiliki ikatan yang sangat kuat, sebuah perilaku langka bagi harimau yang biasanya soliter. Kurator Anand Kumar menceritakan bahwa Pasha sering menyapa pengasuhnya dengan suara mendengkur lembut di pagi hari dan sangat menyukai mainan bola plastik yang dijaganya dengan ketat. Keysa, yang lebih sabar, selalu menunggu giliran saat Pasha bermain.
Kepergian Pasha meninggalkan Keysa sebagai satu-satunya harimau putih di bawah perawatan Mandai Wildlife Group. Tim akan terus memantau Keysa yang kini harus beradaptasi tanpa kehadiran saudaranya. Harimau putih, yang sebenarnya adalah harimau Bengal dengan mutasi genetik langka, bukanlah spesies atau subspesies terpisah, melainkan varian warna yang muncul dari perkawinan sedarah dalam sejarah penangkaran.
Bagi Indonesia, kisah Pasha mengingatkan pada praktik konservasi dan kesejahteraan satwa di lembaga konservasi regional. Batu Secret Zoo di Jawa Timur, tempat asal Pasha, menjadi salah satu contoh bagaimana satwa dilahirkan dan dipindahkan antarnegara. Meskipun harimau putih jarang ditemukan di alam liar karena mutasi genetik yang langka, keberadaan mereka di kebun binatang kerap menuai perdebatan etis terkait perkawinan sedarah yang dilakukan untuk mempertahankan ciri fisik tersebut.
Mandai Wildlife Group menegaskan komitmennya pada konservasi harimau Malaya (Panthera tigris jacksoni) yang terancam punah, melalui program penangkaran regional dan edukasi publik. Langkah ini menjadi prioritas setelah kehilangan Pasha, yang secara tidak langsung menyoroti pentingnya keseimbangan antara konservasi genetik dan kesejahteraan individu satwa. Pertanyaannya, apakah kebun binatang di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan mengevaluasi kembali praktik pemeliharaan harimau putih demi fokus pada spesies yang benar-benar terancam punah?



