Pelindo Dukung Integrasi Tol untuk Tekan Biaya Logistik Nasional
Baca dalam 60 detik
- BUMN pelabuhan menyambut baik rencana pemerintah menyatukan sistem tol guna memangkas biaya distribusi.
- Langkah ini dinilai krusial mengingat kendaraan logistik masih kerap berhenti di gerbang tol berbeda dengan transaksi berulang.
- Integrasi ruas tol seperti JTCC, Japek/MBZ, dan Akses Tanjung Priok diharapkan mempercepat arus barang ke pelabuhan utama.

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah mengintegrasikan jalan tol sebagai upaya menekan biaya logistik nasional. Direktur Komersial Pelindo, Farid Padang, menilai kebijakan ini menjadi kunci untuk memperlancar distribusi barang dan memperkuat daya saing ekonomi, terutama di tengah tingginya biaya transportasi darat yang selama ini membebani rantai pasok.
Dukungan tersebut disampaikan dalam Konsultasi Publik Rancangan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang Pedoman Integrasi Jalan Tol yang digelar di Jakarta, Jumat (14/8). Acara yang dihadiri Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Danantara Asset Management, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI), serta Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini menjadi ajang penyelarasan visi antar pemangku kepentingan.
Farid menjelaskan, integrasi jalan tol merupakan jawaban atas inefisiensi yang terjadi saat ini. Kendaraan logistik masih harus melewati beberapa ruas tol berbayar secara terpisah, sehingga memicu transaksi berulang yang menyita waktu dan menambah biaya operasional. โIntegrasi menjadi solusi untuk mengurangi hambatan di gerbang tol dan mempercepat waktu tempuh,โ ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (16/8).
Pelindo tidak hanya mendukung secara konseptual. Perusahaan pelat merah itu juga siap mengimplementasikan integrasi pada sejumlah ruas strategis, seperti Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC), Jalan Tol Jakarta-Cikampek/Jalan Layang Sheikh Mohammed Bin Zayed (Japek/MBZ), dan Jalan Tol Akses Tanjung Priok (ATP). Ketiga ruas tersebut dinilai vital karena menjadi pintu masuk utama menuju Pelabuhan Tanjung Priok, salah satu hub logistik terbesar di Indonesia.
PT Cibitung Tanjung Priok Port Tollways (PT CTP Tollways), anak usaha Pelindo yang mengelola JTCC, turut menyambut baik rencana ini. Direktur Utamanya, Derry Febrian Putra, menegaskan bahwa integrasi akan memperkuat peran JTCC dalam mendukung efisiensi logistik Jakarta dan sekitarnya. โKami siap berkolaborasi dengan seluruh pihak untuk mewujudkan integrasi ini,โ kata Derry.
Bagi Indonesia, efisiensi logistik bukan sekadar soal teknis. Biaya logistik yang tinggi selama ini menjadi salah satu penghambat daya saing produk lokal di pasar global. Bank Dunia dalam laporan terbarunya mencatat bahwa biaya logistik Indonesia masih di atas rata-rata negara tetangga. Integrasi jalan tol diharapkan mampu menekan komponen biaya transportasi darat yang mencapai 40-60 persen dari total biaya logistik.
Lebih jauh, kebijakan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat sinergi infrastruktur nasional melalui Danantara Asset Management. Dengan pengelolaan aset yang lebih terpadu, integrasi tol dan pelabuhan diharapkan menciptakan ekosistem logistik yang lebih efisien dan bernilai tambah. Farid menekankan pentingnya menjaga iklim investasi jalan tol agar pengembangan infrastruktur tetap berkelanjutan.
Meski demikian, implementasi integrasi tidak tanpa tantangan. Perbedaan skema tarif, sistem transaksi, dan kepentingan operator tol menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Konsultasi publik yang melibatkan berbagai pihak diharapkan mampu menjembatani perbedaan tersebut. Pertanyaannya, seberapa cepat pemerintah dan operator dapat menyepakati mekanisme integrasi yang adil bagi semua pihak?



