Pilot Diminta Lebih Konservatif Hadapi Cuaca: Investigasi Ungkap Keterbatasan Radar dalam Turbulensi
Baca dalam 60 detik
- TSIB merilis laporan akhir dua insiden turbulensi pada penerbangan SIA dan Scoot Juni 2025 yang melukai delapan awak kabin.
- Radar cuaca onboard tidak selalu akurat; turbulensi bisa terjadi di area dengan presipitasi ringan yang dianggap aman.
- Maskapai telah merevisi prosedur pengamanan kabin dan pelatihan kru untuk mengurangi risiko cedera akibat turbulensi tak terduga.

Otoritas investigasi keselamatan transportasi Singapura (TSIB) mendesak pilot untuk mengambil pendekatan lebih hati-hati saat terbang di dekat area cuaca buruk, setelah dua insiden turbulensi terpisah pada Juni 2025 melukai delapan awak kabin maskapai Singapore Airlines (SIA) dan Scoot. Dalam laporan final yang dirilis setahun setelah kejadian, TSIB menekankan bahwa radar cuaca onboard memiliki keterbatasan dan tidak selalu merefleksikan kondisi cuaca aktual, terutama saat jarak pandang rendah.
Pada 27 Juni 2025, pesawat SIA Airbus A350-900 yang tengah menurunkan ketinggian menuju Bandara Internasional Shanghai Pudong mendapati dua sel cuaca di jalurnya. Para pilot memutuskan melintasi celah selebar 20 mil laut di antara kedua sel tersebut, yang tampak bersih di radar dan dari kokpit. Namun, saat memasuki lapisan awan, pesawat mendadak berada sangat dekat dengan sel kiri dan tak bisa menghindari turbulensi. Akibatnya, enam awak kabin cedera—satu patah pergelangan kaki kiri, lima luka ringan—sementara penumpang dan pilot selamat.
TSIB menemukan bahwa tanda sabuk pengaman telah dinyalakan untuk penumpang, tetapi awak kabin masih diizinkan melanjutkan tugas. “Memerintahkan kru untuk duduk sebelum melintasi sel cuaca bisa mengurangi risiko cedera,” tulis biro tersebut. Insiden ini menjadi pengingat bahwa informasi radar mungkin tidak akurat saat visibilitas buruk, dan pilot perlu bersikap lebih konservatif.
Insiden kedua terjadi pada 9 Juni 2025, saat pesawat Scoot menuju Guangzhou mengalami turbulensi selama 32 detik di atas perairan internasional. Saat itu, pilot melihat kecepatan pesawat meningkat—tanda awal turbulensi—dan bermaksud meminta izin membelok ke kanan, tetapi gagal karena padatnya lalu lintas radio. Pilot mengira area hijau di radar yang menunjukkan presipitasi ringan aman dilalui, dan menyalakan tanda sabuk pengaman. Namun, sebelum sempat memerintahkan kru menghentikan layanan, turbulensi menerjang. Dua awak kabin cedera, satu serius dan satu ringan.
TSIB menekankan pentingnya menyalakan tanda sabuk pengaman dan mengumumkan ke kabin lebih awal saat ragu. “Jika tanda dinyalakan saat deviasi dipertimbangkan, kru kabin punya lebih banyak waktu untuk mengamankan diri,” ujar biro tersebut. Setelah insiden, Scoot mengingatkan pilot bahwa mereka boleh menyimpang dari jalur tanpa izin sebelumnya untuk menghindari cuaca, dan menggunakan frekuensi radio khusus jika jalur reguler padat.
Kedua maskapai telah mengambil langkah perbaikan. SIA merevisi prosedur pengamanan kabin, memasukkan skenario turbulensi tak terduga ke pelatihan kru, dan memperkenalkan alat Rapidly Developing Cumulus Area yang memberikan informasi tambahan untuk memantau turbulensi. Scoot memperbarui modul manajemen turbulensi bagi seluruh awak kabin. Semua kru yang terlibat telah kembali bertugas.
Bagi industri penerbangan Indonesia, temuan ini relevan mengingat tingginya frekuensi penerbangan domestik dan internasional yang melintasi wilayah cuaca tropis. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air Group dapat mengevaluasi ulang prosedur operasi standar mereka, terutama dalam penggunaan radar cuaca dan komunikasi antara pilot dan awak kabin saat menghadapi turbulensi tak terduga. Keterbatasan radar onboard yang diungkap TSIB menjadi pengingat bahwa teknologi tidak sepenuhnya menggantikan kewaspadaan manusia.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah regulator penerbangan di kawasan Asia Tenggara akan mengadopsi rekomendasi serupa, atau justru mendorong investasi pada sistem deteksi turbulensi berbasis satelit yang lebih akurat. Satu hal yang pasti: keselamatan awak kabin, yang sering menjadi garda terdepan dalam menghadapi turbulensi, harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan operasional maskapai.



