Video Letusan Gunung Anak Krakatau Viral Dipastikan Hoaks, Ini Fakta Terkini
Baca dalam 60 detik
- Petugas Pos Pantau GAK menegaskan video erupsi besar yang viral di media sosial bukan dokumentasi aktivitas terkini.
- Status Gunung Anak Krakatau masih Siaga Level III, dengan radius bahaya 3 km dari kawah yang tidak boleh dimasuki.
- Polda Lampung mengaktifkan Satgas Aman Nusa dan memperketat patroli perairan untuk mengantisipasi dampak vulkanik.

Video berdurasi sepuluh detik yang memperlihatkan semburan api dan asap hitam dari Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda ramai dibagikan warganet, namun petugas memastikan rekaman itu bukan kondisi terkini gunung berapi tersebut.
Andi Suwardi, petugas Pos Pantau GAK, menegaskan bahwa aktivitas erupsi yang terekam dalam video bukanlah gambaran situasi terbaru. "Video yang beredar itu bukan kondisi GAK saat ini. Untuk aktivitas GAK yang terjadi sekarang, pastinya tidak seperti yang terlihat dalam rekaman video itu," ujarnya, Sabtu (4/7) malam. Menurutnya, erupsi terakhir terpantau pada Jumat pukul 15.00 WIB, dan setelah itu hingga Sabtu siang tidak ada lagi letusan teramati.
Meski tidak ada erupsi baru, status GAK masih berada di Level III (Siaga) sejak dinaikkan Badan Geologi Kementerian ESDM pada Kamis (2/7) pukul 16.30 WIB. Peningkatan status ini dipicu lonjakan aktivitas vulkanik berupa gempa vulkanik dangkal, emisi gas sulfur dioksida, deformasi tubuh gunung, dan rentetan erupsi. Masyarakat, nelayan, dan wisatawan dilarang mendekati pusat kawah dalam radius tiga kilometer.
Kabar hoaks ini memicu keresahan warga. Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari, mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. "Jangan langsung menyebarkan informasi yang belum pasti kebenarannya, karena bisa memicu keresahan," katanya. Ia meminta publik selalu merujuk pada data resmi dari Badan Geologi, BMKG, BPBD, atau pemerintah daerah.
Polda Lampung telah meningkatkan kesiapsiagaan dengan mengaktifkan Satgas Aman Nusa, memperkuat posko bencana, dan meningkatkan patroli di pesisir serta perairan Selat Sunda melalui Direktorat Polairud. "Kami juga memperkuat koordinasi dengan BPBD, TNI, dan instansi terkait agar penanganan terpadu bisa dilakukan jika aktivitas GAK meningkat," ujar Yuni. Langkah ini memastikan personel dan sarana penanggulangan bencana siap digerakkan sewaktu-waktu.
Ke depan, masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan GAK melalui kanal resmi dan tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dengan status siaga yang masih berlaku, kewaspadaan kolektif menjadi kunci untuk mengantisipasi potensi bahaya vulkanik di kawasan Selat Sunda.



