Kebakaran Flat Jurong East Tewaskan Pria 67 Tahun, 50 Warga Dievakuasi: Rentetan Insiden Memicu Kewaspadaan
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria lanjut usia ditemukan tak bernyawa di dalam unit flatnya di Jurong East, Singapura, setelah kebakaran terjadi pada dini hari.
- Insiden ini merupakan yang terbaru dari serangkaian kebakaran rumah mematikan di Singapura dalam sebulan terakhir, menimbulkan kekhawatiran publik.
- Otoritas setempat masih menyelidiki penyebab kebakaran, namun dugaan awal mengarah pada tidak adanya unsur kriminal.

Seorang pria berusia 67 tahun tewas dalam kebakaran yang melanda sebuah flat di Blok 339 Jurong East Avenue 1, Singapura, pada Minggu dini hari (16/8). Peristiwa nahas itu memaksa sekitar 50 warga mengungsi dan mengirimkan gelombang kecemasan di tengah meningkatnya frekuensi kebakaran rumah di negara kota tersebut.
Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) menerima laporan kebakaran sekitar pukul 03.55 waktu setempat. Begitu tiba di lokasi, petugas pemadam melihat kepulan asap hitam pekat dari ruang tamu sebuah unit di lantai tiga. Karena akses terhalang, mereka terpaksa membobol pintu untuk masuk. Di dalam, korban ditemukan dalam keadaan tak bergerak dan kemudian dinyatakan meninggal dunia oleh paramedis SCDF.
Kebakaran yang diduga berasal dari barang-barang di ruang tamu itu berhasil dipadamkan dengan satu aliran air. Polisi Singapura, dalam keterangannya, menyebutkan bahwa penyelidikan awal tidak menemukan indikasi tindak kriminal. Namun, penyebab pasti masih terus didalami.
Insiden ini menambah daftar panjang kebakaran fatal di Singapura dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, pada 28 Juli, seorang pria 70 tahun tewas dalam kebakaran di Blok 39 Circuit Road. Tiga hari kemudian, kebakaran di Blok 309 Clementi Avenue 4 merenggut satu nyawa dan melukai dua petugas pemadam. Terakhir, pada 5 Agustus, seorang pria 88 tahun meninggal dua hari setelah kebakaran di Blok 684 Race Course Road yang menjebak empat orang lainnya.
Rentetan kejadian ini memantik kekhawatiran akan keselamatan hunian vertikal yang padat, terutama bagi warga lanjut usia yang kerap tinggal sendiri. Di Indonesia, fenomena serupa juga menjadi perhatian, mengingat banyaknya permukiman padat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Kepala Bidang Humas Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, Mulat Wijayanto, saat dihubungi terpisah, menekankan pentingnya deteksi dini dan kesiapsiagaan warga. "Kebanyakan korban kebakaran di rumah adalah mereka yang tidak sempat menyelamatkan diri karena terlambat mengetahui api," ujarnya.
Para ahli keselamatan kebakaran menilai bahwa faktor usia dan kondisi fisik menjadi penghambat utama evakuasi. "Korban lanjut usia seringkali memiliki mobilitas terbatas dan gangguan kesehatan yang membuat mereka rentan," kata seorang analis keselamatan yang enggan disebut namanya. Ia juga menggarisbawahi pentingnya pemasangan alarm asap di setiap unit rumah, sebuah langkah yang masih belum menjadi standar wajib di banyak negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
SCDF sendiri telah berulang kali mengimbau warga untuk memeriksa instalasi listrik dan tidak meninggalkan peralatan memasak dalam keadaan menyala. Namun, imbauan semacam itu seringkali kurang efektif tanpa adanya regulasi yang ketat dan sanksi yang jelas. Di Indonesia, pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mewajibkan pemasangan alarm kebakaran di gedung-gedung tinggi, namun implementasinya masih jauh dari optimal.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah otoritas Singapura akan memperketat aturan keselamatan kebakaran, terutama untuk hunian yang dihuni warga lanjut usia. Sementara itu, bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana harus dimulai dari unit terkecil: rumah tangga. Apakah kita sudah cukup siap menghadapi risiko serupa?



