Gempa NTT Magnitudo 7,7 Tewaskan 51 Orang: Ribuan Warga Mengungsi, Ratusan Terluka
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,7 SR di Nusa Tenggara Timur menewaskan sedikitnya 51 orang dan melukai 130 lainnya, memaksa ribuan warga mengungsi.
- BNPB mencatat hampir seribu gempa susulan, menghambat evakuasi korban yang mungkin tertimbun longsor dan puing bangunan.
- Pemerintah menetapkan status tanggap darurat dan mengerahkan 3.500 personel militer-polisi untuk percepatan penanganan dampak bencana.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan timur Indonesia pada Sabtu (15/8) menewaskan sedikitnya 51 orang dan memaksa sekitar 5.000 warga mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 130 orang mengalami luka-luka, sebagian besar patah tulang, sementara akses jalan terputus dan tanah longsor menghambat upaya penyelamatan.
Guncangan yang berpusat di wilayah Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini menjadi gempa paling mematikan di Indonesia sejak bencana serupa di Cianjur, Jawa Barat, pada 2022 yang menewaskan ratusan jiwa. Hingga Minggu (16/8), BNPB melaporkan hampir seribu gempa susulan telah terekam, memicu ketakutan warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian.
Di Pelabuhan Maumere yang kini ditutup, puing-puing atap dan dinding berserakan. Sejumlah warga mengaku trauma dan takut akan gempa susulan. "Kami sering mengalami gempa, tapi yang ini benar-benar memicu trauma seperti tahun 1992," ujar Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, kepala badan penanggulangan bencana daerah setempat, saat truk-truk berisi bantuan makanan dan tenda mulai berdatangan.
Tim gabungan dari TNI, Polri, dan Basarnas dikerahkan untuk membersihkan puing di daerah terdampak seperti Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo. Suryaman, pejabat Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), menyatakan prioritas utama adalah menemukan warga yang mungkin masih tertimbun. "Kami belum menerima laporan orang hilang, tetapi longsor dan gempa susulan menghambat proses pencarian," katanya kepada Reuters.
Pemerintah Kabupaten Sikka dan sekitarnya telah menetapkan status tanggap darurat untuk memobilisasi sumber daya dan dana. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan lebih dari 3.500 personel gabungan dikerahkan ke NTT. Sementara itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) melaporkan pasokan listrik hampir pulih, meski perbaikan jaringan distribusi masih berlangsung.
Indonesia, yang berada di Cincin Api Pasifik, memang kerap dilanda gempa dan letusan gunung berapi. Namun, gempa kali ini mengingatkan pada kejadian serupa di NTT pada 1992 yang berkekuatan 7,5 SR dan menyebabkan kerusakan luas. Ahli geologi Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa wilayah tersebut berada di zona sesar naik busur belakang Flores, sistem sesar utama yang membentang dari barat ke timur.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi ujian nyata kesiapsiagaan dan ketangguhan infrastruktur di kawasan timur. Meski bantuan mulai mengalir, tantangan logistik dan kondisi geografis yang sulit akan menentukan kecepatan pemulihan. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini dan tata ruang di daerah rawan gempa sudah cukup memadai untuk mengurangi risiko korban jiwa di masa depan?



