Menelusuri Akar Leluhur di Gulao: Ketika Diaspora Kembali Menemukan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Keluarga penulis dari Singapura melakukan perjalanan emosional ke Gulao, Guangdong, untuk pertama kalinya mengunjungi rumah leluhur mereka.
- Penelusuran yang dimulai tahun 2022 oleh saudara penulis berhasil menghubungkan kembali keluarga dengan kerabat yang selama ini tidak dikenal.
- Perjalanan ini menyoroti pentingnya warisan budaya dan sejarah bagi diaspora Tionghoa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Di tengah hiruk-pikuk modernitas, sebuah keluarga dari Singapura memilih menapaki jalan sunyi menuju Gulao, sebuah kota air di Heshan, Guangdong, Tiongkok. Bagi mereka, ini bukan sekadar liburan, melainkan ziarah untuk menemukan kembali akar yang telah lama terputus. Juliana Loh, penulis sekaligus ibu dari seorang anak berusia lima tahun, memimpin perjalanan ini bersama ayahnya yang berusia 85 tahun, kedua bibinya yang masing-masing berusia 92 dan 86 tahun, serta sepupu-sepupunya. Tujuan mereka adalah Tinbinfong, salah satu desa di Gulao yang menjadi tempat asal keluarga sebelum nenek moyang mereka merantau ke Singapura beberapa generasi lalu.
Perjalanan ini bermula dari penasaran sang kakak, Wai Yue, yang sejak 2022 giat menelusuri jejak keluarga. Berbekal cerita nenek mereka yang telah tiada, Wai Yue berhasil menemukan rumah leluhur dan kerabat yang selama ini tak pernah mereka ketahui. Momen itu menjadi titik balik, membuka pintu bagi diaspora keluarga untuk kembali terhubung dengan akar mereka. Selama empat hari di Gulao, mereka disambut hangat oleh keluarga besar, menikmati sup buatan sendiri yang dimasak dengan arang, sayuran segar dari kebun, dan ikan mas dari danau. Mereka juga belajar teknik memasak dari sepupu yang pensiunan koki, sementara istrinya membuat bakcang dari nol.
Bagi ayah Juliana, ini adalah kunjungan ketiga kalinya, tetapi bagi kedua bibinya, ini adalah pengalaman pertama yang sangat emosional. "Pertanyaan tentang siapa kita hari ini tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan dari mana kita berasal," ujar Wai Yue, yang tinggal di Beijing selama lebih dari satu dekade. Penelusurannya dimulai secara tidak sengaja saat menjalani karantina COVID-19 di Guangdong pada Juli 2022. Berawal dari memotret desa yang memiliki marga yang sama, ia diundang makan siang oleh kepala Partai Komunis setempat, yang kemudian membawanya ke rumah keluarga dan menunjukkan foto-foto kakek buyut mereka.
Kisah keluarga ini bermula dari Lo Yuen Lan, yang mendirikan klan Lan Kwai Tong pada pertengahan abad ke-19. Putra keduanya, Lo Sek Kum, lahir di Gulao sebelum berangkat ke Selat (Straits Settlements) dan kemudian dikenal sebagai Lo Lai Sang. Dari penelusuran, mereka menemukan bahwa Lo Lai Sang adalah salah satu pendiri Kamar Dagang dan Industri Tionghoa Singapura. Ia membangun kekayaan dari bisnis impor-ekspor, properti, tekstil, perkebunan, bioskop, dan bahkan memegang lisensi petasan satu-satunya di Singapura. Namun, kekayaan itu luluh lantak saat pendudukan Jepang di Malaya, meski selamat dari Perang Opium dan jatuhnya Dinasti Qing.
Di rumah leluhur, mereka menemukan surat-menyurat dan kiriman uang dari nenek moyang yang dikirim selama satu abad terakhir. Surat-surat rapuh itu menjadi saksi bisu ikatan keluarga yang membentang di Laut Tiongkok Selatan. "Setiap keluarga yang merantau ke Nanyang punya cerita yang menunggu untuk diceritakan," tulis Juliana. Ia merasa bangga karena nenek moyangnya adalah pengusaha progresif yang membantu membangun komunitas migran di Asia Tenggara. Saat ini, keluarga sedang berupaya memulihkan enam rumah leluhur yang tersisa, dengan arsitektur khas Gulao: dinding bata abu-abu, atap genteng gelap, dan bubungan kapal naga yang melambangkan perlindungan dan kemakmuran.
Bagi diaspora Tionghoa di Indonesia, kisah ini mungkin terasa akrab. Banyak keluarga di Indonesia yang juga memiliki kisah migrasi dari Tiongkok Selatan, dengan rumah leluhur yang mungkin masih berdiri di kampung halaman. Namun, tidak semua memiliki kesempatan untuk menelusuri kembali jejak tersebut. "Perjalanan ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap keluarga ada sejarah yang layak digali," kata seorang pengamat budaya dari Universitas Indonesia. Ia menambahkan bahwa upaya pelestarian rumah leluhur seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi komunitas Tionghoa di Indonesia untuk menjaga warisan budaya mereka.
Juliana juga merenungkan tentang trauma antargenerasi yang diwariskan. Ayahnya tumbuh dengan disiplin keras, seperti berlutut di atas kacang hijau dan diberi cabai di bibir saat berbohong. Namun, ia melihat perubahan: "Kita belajar untuk melunakkan yang keras, menghormati yang indah, dan mewariskan warisan yang lebih lembut kepada anak-anak kita." Baginya, kekayaan materi yang dibangun nenek moyang mungkin telah hilang, tetapi kisah asal-usul adalah warisan sejati yang tak ternilai.
Saat meninggalkan Gulao, Juliana menggenggam tangan putranya, merasakan beban dan keajaiban semua yang telah terjadi sebelumnya. Ia berharap suatu hari nanti putranya akan bertanya dari mana ia berasal, dan ia akan memiliki jawaban yang jelas. "Kami telah membuka jalan menuju jawaban itu," tutupnya. Pertanyaannya, berapa banyak keluarga diaspora lain yang masih menyimpan cerita yang belum terungkap, dan apakah mereka akan memiliki kesempatan untuk menemukannya?



