Djokovic Ungkap Kondisi Kesehatan yang Mengganggu Usai Tersingkir di Cincinnati
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic mengakui masalah kesehatan kronis yang diperparah oleh cuaca panas dan lembap di Cincinnati, menyebabkan kekalahannya di babak kedua.
- Kekalahan dari petenis Argentina peringkat 50 dunia menimbulkan tanda tanya besar menjelang US Open, di mana Djokovic akan memburu gelar grand slam ke-25.
- Kondisi ini berpotensi memengaruhi jadwal turnamen Djokovic ke depan, termasuk kemungkinan absennya ia dari Cincinnati tahun depan.

Petenis nomor lima dunia, Novak Djokovic, mengungkapkan bahwa ia tengah berjuang melawan kondisi kesehatan yang telah mengganggunya selama beberapa tahun terakhir, setelah tersingkir secara mengejutkan di babak kedua Cincinnati Open, Rabu (14/8) waktu setempat. Kekalahan 2-6, 6-4, 6-4 dari petenis Argentina peringkat 50 dunia, Thiago Agustin Tirante, memunculkan kekhawatiran baru menjelang turnamen Grand Slam US Open yang akan dimulai pada 30 Agustus mendatang.
Djokovic, yang baru kembali bertanding setelah kekalahannya dari Jannik Sinner di semifinal Wimbledon pada Juli lalu, tampak kesulitan sejak awal pertandingan. Ia terlihat berlutut di lapangan dan meminta jeda medis di tengah set kedua. Usai pertandingan, ia mengakui bahwa kondisi kesehatannya memburuk akibat panas dan kelembapan tinggi di Ohio. "Ini kondisi yang saya miliki, masalah kesehatan yang sudah mengganggu saya beberapa tahun terakhir. Banyak masalah, terutama saat cuaca lembap dan panas," ujarnya kepada wartawan.
Pernyataan Djokovic ini menambah daftar panjang kekhawatiran tentang kebugaran fisiknya di usia 39 tahun. Meski ia masih mampu tampil kompetitif di level tertinggi, kekalahan dari pemain di luar 50 besar menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti cuaca dapat menjadi penghambat serius. Analis tenis menilai bahwa manajemen jadwal dan adaptasi terhadap kondisi lapangan akan menjadi kunci bagi Djokovic untuk tetap bersaing di turnamen-turnamen besar.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kabar ini tentu menjadi perhatian. Djokovic memiliki basis penggemar yang besar di Asia Tenggara, dan banyak yang berharap ia masih bisa tampil di turnamen-turnamen Asia seperti China Open atau Shanghai Masters akhir tahun ini. Namun, jika kondisi kesehatannya tidak membaik, bukan tidak mungkin ia akan mengurangi partisipasinya di turnamen dengan cuaca ekstrem.
Kekalahan ini juga menyoroti persaingan ketat di puncak tenis dunia. Dengan munculnya generasi baru seperti Sinner dan Carlos Alcaraz, setiap kelemahan fisik akan langsung dieksploitasi lawan. Djokovic sendiri mengakui bahwa faktor saraf dan tekanan mental turut memperburuk kondisinya. "Saya sudah mengantisipasinya, tapi ada hal-hal seperti saraf dan segalanya yang membuatnya lebih buruk," katanya.
Menjelang US Open, pertanyaan besar adalah apakah Djokovic mampu pulih dan tampil dalam kondisi prima. Ia adalah juara bertahan di New York, dan kegagalan mempertahankan gelar akan menjadi pukulan telak bagi ambisinya mengejar rekor grand slam. Namun, dengan pengalaman dan mentalitas juaranya, banyak yang percaya ia tetap menjadi ancaman serius di turnamen besar.
Ke depan, manajemen jadwal dan pemulihan fisik akan menjadi fokus utama tim Djokovic. Apakah ia akan mengurangi partisipasi di turnamen dengan cuaca ekstrem atau justru beradaptasi lebih baik? Jawabannya akan menentukan apakah kita masih akan melihat dominasi Djokovic di puncak tenis dunia dalam beberapa tahun ke depan.



