AS Bangkit dari Mimpi Buruk: 10 Pemain Tumbangkan Bosnia, Tantang Belgia
Baca dalam 60 detik
- Timnas AS mengakhiri puasa kemenangan 24 tahun di fase gugur Piala Dunia setelah menundukkan Bosnia 2-0 meski bermain dengan 10 orang sejak babak kedua.
- Kemenangan ini memutus rekor 10 kekalahan beruntun AS dari tim Eropa sekaligus mengantarkan mereka ke babak 16 besar melawan Belgia.
- Kartu merah Folarin Balogun nyaja menggagalkan pesta, namun gol telat Malik Tillman memastikan langkah AS berlanjut di turnamen.

Tim nasional Amerika Serikat akhirnya memecahkan kutukan 24 tahun tanpa kemenangan di babak gugur Piala Dunia. Bermain dengan 10 pemain sejak pertengahan babak kedua, mereka menaklukkan Bosnia 2-0 dalam laga sengit di Santa Clara, California, Rabu (1/7) waktu setempat. Kemenangan ini tidak hanya membawa AS ke babak 16 besar, tetapi juga menghentikan catatan buruk 10 kekalahan beruntun dari lawan Eropa.
Pertandingan berjalan dengan tempo tinggi sejak menit awal. Folarin Balogun membuka keunggulan AS menjelang turun minum, memanfaatkan umpan terobosan Christian Pulisic. Namun euforia berubah menjadi kekhawatiran saat Balogun mendapat kartu merah langsung pada menit ke-55 karena tekel keras terhadap Tarik Muharemovic. Wasit menilai pelanggaran itu serius, meskipun tayangan ulang menunjukkan kontak tampak tidak disengaja.
Unggul jumlah pemain, Bosnia yang sebelumnya bertahan pasif mulai meningkatkan tekanan. Namun pertahanan AS yang dipimpin Tim Ream dan Antonee Robinson mampu meredam serangan demi serangan. Saat laga memasuki delapan menit terakhir, Malik Tillman melepaskan tendangan bebas melengkung yang tak mampu dijangkau kiper Bosnia, memastikan kemenangan dan memicu euforia di stadion yang dipenuhi pendukung tuan rumah.
Bagi Indonesia, perjalanan AS di Piala Dunia 2026 menjadi tontonan menarik karena kedua negara akan menjadi tuan rumah bersama Meksiko dan Kanada. Keberhasilan AS menembus babak gugur menunjukkan bahwa tim non-unggulan pun bisa bersaing, memberi harapan bagi negara tuan rumah lain yang mungkin belum dianggap favorit. Apalagi, gaya bermain AS yang mengandalkan kecepatan dan pressing tinggi bisa menjadi referensi bagi pengembangan sepak bola di Asia Tenggara.
Pelatih AS, Gregg Berhalter, memuji ketangguhan timnya. "Bermain dengan 10 orang melawan tim kuat seperti Bosnia bukanlah tugas mudah. Para pemain menunjukkan karakter luar biasa," ujarnya dalam konferensi pers usai laga. Sementara itu, Christian Pulisic menegaskan bahwa kartu merah tidak seharusnya terjadi. "Kami tampil baik dan tidak pantas mendapat kartu merah. Tapi kami bertahan bersama dan meraih kemenangan yang membanggakan," katanya.
Di sisi lain, Bosnia harus mengakui keunggulan AS meski unggul jumlah pemain. Pelatih Bosnia, Ivaylo Petev, menyesalkan kegagalan timnya memanfaatkan keunggulan numerik. "Kami kehilangan konsentrasi di momen krusial. Tendangan bebas Tillman sangat indah dan tak terduga," akunya.
Dengan hasil ini, AS akan menghadapi Belgia di Seattle pada babak 16 besar. Belgia sendiri lolos setelah menyingkirkan Senegal lewat kemenangan dramatis 3-2 setelah perpanjangan waktu. Pertemuan ini menjadi ujian berat bagi AS, mengingat Belgia memiliki pemain-pemain bintang seperti Kevin De Bruyne dan Romelu Lukaku. Namun, semangat juang yang ditunjukkan AS melawan Bosnia bisa menjadi modal berharga. Mampukah mereka melanjutkan kejutan dan menembus perempat final untuk pertama kalinya sejak 2002?



