Serena Williams Kalah, Tapi Pujian Mengalir dari Sesama Petenis di Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Serena Williams, 44 tahun, kalah dari Maya Joint di babak pertama Wimbledon setelah absen hampir empat tahun, namun performanya menuai pujian dari petenis top seperti Coco Gauff dan Naomi Osaka.
- Cedera lutut kanan yang dialami Williams sejak akhir set pertama tidak menghalangi semangatnya untuk tetap bermain ganda bersama Venus, menunjukkan mental juara yang tak lekang waktu.
- Kembalinya Williams ke lapangan tunggal menjadi inspirasi bagi banyak pihak, termasuk para ibu di Indonesia yang mengejar mimpi di usia tidak muda lagi.

Serena Williams kembali ke lapangan tunggal Wimbledon setelah absen hampir empat tahun, dan meskipun harus mengakui keunggulan petenis muda Australia Maya Joint, penampilannya mendapat pujian luar biasa dari sesama pemain profesional. Legenda tenis berusia 44 tahun itu kalah 6-3, 6-7 (6), 6-3 di babak pertama, namun servisnya yang masih melesat di atas 120 mph dan pukulan groundstroke akurat membuktikan bahwa kelasnya belum pudar.
Coco Gauff, petenis Amerika yang kini menjadi bintang muda, mengaku rela memotong waktu makannya untuk menyaksikan pertandingan Williams. "Level permainan Serena sungguh gila. Ini membuktikan dia adalah yang terbaik sepanjang masa, tanpa peduli usia. Saya tidak mengerti bagaimana dia bisa bermain setinggi itu setelah empat tahun tidak bertanding," ujar Gauff. Pujian serupa datang dari Naomi Osaka, yang terharu saat menonton montase karier Williams sebelum pertandingan. "Saya tumbuh besar menontonnya, dan sekarang saya bisa menyaksikannya lagi. Itu sangat keren," kata Osaka.
Williams mengumumkan bahwa ia mengalami cedera pada lutut kanannya menjelang akhir set pertama, namun tetap bertekad untuk tampil di nomor ganda bersama saudarinya, Venus Williams, akhir pekan ini. Agennya, Jill Smoller, menjelaskan bahwa Williams tidak memerlukan bantuan medis saat meninggalkan lapangan dan sedang melakukan pemulihan maksimal. Di media sosial, Williams menulis, "Rasanya luar biasa bisa kembali ke rumput Wimbledon. Saya sangat berterima kasih atas wild card, dan lebih bersyukur lagi karena putri-putri saya bisa melihat bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar sesuatu yang Anda cintai."
Kembalinya Williams ke Wimbledon bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah pernyataan bahwa seorang atlet, bahkan di usia 44 tahun dan setelah menjadi ibu dari dua anak, masih bisa bersaing di level tertinggi. Kehadiran putrinya, Olympia (8) dan Adira (hampir 3 tahun), di tribun penonton menjadi saksi bisu perjuangan sang ibu. Suami Williams, Alexis Ohanian, menulis di media sosial, "Keluarga kecil kami sangat bangga padamu. Meskipun hasilnya tidak sesuai harapan, kamu adalah inspirasi."
Bagi Indonesia, kisah Williams mengingatkan pada perjuangan atlet-atlet senior seperti Liliyana Natsir atau Chris John yang tetap berprestasi di usia senja. Di tengah budaya yang sering menganggap usia sebagai batasan, kembalinya Williams menjadi pengingat bahwa semangat dan dedikasi bisa mengalahkan angka. Pertanyaannya, akankah ada petenis Indonesia yang terinspirasi untuk mengikuti jejaknya, atau justru sistem pembinaan kita yang perlu berbenah agar atlet senior tetap punya wadah berkompetisi?



