Gempa Flores Tewaskan 47 Orang: BNPB Kerahkan 275 Ton Bantuan, Waspada Likuefaksi
Baca dalam 60 detik
- Korban jiwa gempa magnitudo 7,7 di Nagekeo mencapai 47 orang, tersebar di enam kabupaten NTT.
- BNPB mengirim 50 ribu paket bantuan via udara, sementara 2.000 warga mengungsi mandiri.
- Ancaman likuefaksi dan tanah longsor masih mengintai, menuntut verifikasi lapangan segera.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu dini hari telah menewaskan sedikitnya 47 orang. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah seiring proses evakuasi yang terus berlangsung di enam kabupaten terdampak, sementara pemerintah memprioritaskan pengiriman bantuan logistik ke wilayah terisolasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kerusakan yang meluas. Hingga Sabtu pukul 18.48 WITA, sedikitnya 346 rumah rusak dengan rincian 157 rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan. Fasilitas publik pun tak luput: 87 sekolah, 18 puskesmas, lima tempat ibadah, dan enam kantor pemerintahan dilaporkan mengalami kerusakan. Data ini masih bersifat sementara dan berpotensi berubah seiring pendataan lapangan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S. Panjaitan, menyatakan pihaknya telah mengirimkan 50 ribu paket bantuan makanan dan non-makanan dengan total berat 275 ton. Bantuan tersebut diangkut melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan baru sekitar 10.500 paket yang tiba di pangkalan tersebut. "Kami memprioritaskan akses udara karena sejumlah wilayah terdampak sulit dijangkau lewat darat," ujarnya dalam keterangan resmi.
Guncangan yang terjadi pukul 04.58 WITA itu berpusat di laut sekitar 30 kilometer dari Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan tsunami, namun dicabut pada pukul 07.31 WITA setelah pengamatan muka air laut tidak menunjukkan kenaikan signifikan. Meski demikian, warga di pesisir sempat mengungsi ke tempat lebih tinggi sebelum peringatan dicabut.
Di tengah upaya pencarian korban, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengingatkan adanya potensi bahaya sekunder seperti tanah longsor, retakan tanah, dan likuefaksi. Laporan awal menyebut munculnya air dari tanah di kawasan Waekokak-Mbay, Nagekeo, yang memicu investigasi lebih lanjut. "Temuan awal ini masih memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah benar terjadi likuefaksi," kata Lana, seperti dikutip Antara. Kondisi ini menambah kekhawatiran karena dapat memperparah kerusakan infrastruktur dan membahayakan warga yang bertahan di rumah.
Bagi Indonesia, gempa Flores ini menjadi pengingat akan tingginya risiko seismik di kawasan timur. Berbeda dengan gempa besar di Palu 2018 yang memicu likuefaksi dahsyat, kejadian kali ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bahaya ikutan. Masyarakat pesisir di NTT, yang sebagian besar bergantung pada sektor perikanan dan pariwisata, kini menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat rusaknya fasilitas umum dan terganggunya aktivitas sehari-hari.
Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan masih menyisir puing-puing bangunan untuk mencari kemungkinan korban terjebak. Media lokal melaporkan sekitar 2.000 warga telah mengungsi secara mandiri ke lokasi yang lebih aman. Jumlah korban luka belum dirilis secara resmi, namun diperkirakan puluhan orang dirawat di puskesmas darurat.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan bantuan tepat sasaran dan mencegah penyakit pasca-bencana di pengungsian. Pemerintah juga perlu segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap potensi likuefaksi dan longsor susulan, terutama di kawasan perbukitan. Akankah respons cepat ini cukup untuk memulihkan kehidupan warga Flores yang kembali diuji oleh kekuatan alam?



