Perang Matcha: Jepang Jaga Tradisi, China Genjot Produksi Massal
Baca dalam 60 detik
- Ekspor teh hijau Jepang memecahkan rekor enam tahun berturut-turut, tetapi produksi tak mampu mengejar lonjakan permintaan global.
- China kini menguasai sekitar 70 persen pasokan matcha dunia, memanfaatkan skala ekonomi dan biaya produksi rendah.
- Persaingan ini memicu perdebatan tentang otentisitas dan standar kualitas, dengan Jepang mendaftarkan 'Nihon Cha' sebagai nama yang dilindungi.

Ledakan popularitas matcha di kancah global telah mengubah peta industri teh, mempertemukan tradisi Jepang yang berusia berabad-abad dengan ambisi produksi massal China. Jepang, yang selama ini identik dengan matcha premium, kini menghadapi dilema: permintaan dunia yang melonjak justru tidak sebanding dengan kapasitas produksi domestik. Di sisi lain, China yang telah menjadi produsen teh terbesar dunia, melihat celah untuk memperbesar pangsa pasar dengan mengandalkan efisiensi dan volume.
Di Uji, kota bersejarah di Prefektur Kyoto, toko teh legendaris Horii Shichimeien kebanjiran pembeli yang rela mengantre demi mendapatkan matcha berkualitas tinggi. Harga matcha di toko ini melonjak tiga hingga lima kali lipat dibandingkan lima tahun lalu, dengan satu kaleng berisi 100 gram bisa mencapai hampir US$170. Presiden Horii Shichimeien, Chotaro Horii, mengakui bahwa ledakan matcha telah menyelamatkan bisnis keluarganya yang sempat terpuruk. “Teh Jepang sedang menurun, tetapi ledakan matcha di luar negeri menyelamatkan kami,” ujarnya.
Namun, kebangkitan ini tidak tanpa masalah. Jepang justru kesulitan memenuhi permintaan yang terus meningkat. Proses produksi matcha yang rumit dan memakan waktu—mulai dari menaungi daun teh selama 20-40 hari, memanen hanya pada musim semi pertama, hingga menggiling dengan batu tradisional yang hanya menghasilkan 40 gram per jam—membatasi kapasitas produksi. Meski ekspor teh hijau Jepang mencapai rekor 12.600 ton pada 2025, naik 43 persen dari tahun sebelumnya, produksi tencha (daun teh untuk matcha) yang hanya 6.200 ton tidak cukup untuk memenuhi dahaga pasar global.
Di tengah keterbatasan Jepang, China bergerak cepat. Di kota Tongren, Provinsi Guizhou—yang dulunya termiskin di China—pemerintah setempat memberikan subsidi dan dukungan untuk menghidupkan kembali lahan teh yang terbengkalai. Kini, lebih dari 100.000 petani menggantungkan hidup pada industri matcha. Petani berusia 71 tahun, Yang Xiuyuan, yang dulunya bekerja di lahan tandus, kini memperoleh 100 yuan (sekitar US$15) per hari dari merawat tanaman teh. Tongren sendiri menyumbang sekitar seperlima produksi matcha China, yang secara keseluruhan menguasai 70 persen pasokan global tahun lalu, dengan total produksi lebih dari 12.000 ton.
Chen Xiaoming, wakil manajer umum Gui Tea Group—produsen matcha terbesar China—melihat peluang besar di pasar internasional. “Produksi matcha Jepang memang tumbuh pesat, tetapi tidak bisa mengimbangi kecepatan peningkatan permintaan global,” katanya. China mengandalkan keunggulan biaya dan tenaga kerja untuk memproduksi matcha grade minuman yang menjadi mayoritas permintaan dunia. “Kami tidak perlu membuat matcha se-mewah Uji,” tambah Chen. Provinsi Guizhou bahkan menargetkan industri matcha bernilai US$1,5 miliar pada 2030.
Bagi Jepang, matcha bukan sekadar komoditas; ia melekat dengan tradisi dan identitas. Uji, yang menarik 6,2 juta wisatawan pada 2025, menjadi simbol kebanggaan. Namun, industri ini menghadapi masalah regenerasi petani. Chotaro Horii mengakui, “Pemetik daun, yang kebanyakan perempuan, semakin tua. Sulit mencari pengganti.” Meski demikian, menantunya, Shunta Horii, bertekad memperkenalkan matcha Uji ke dunia sambil mempertahankan keasliannya. “Ini tentang tanah, iklim, dan warisan. Kami harus mengingat akar kami dan menceritakannya ke dunia,” ujarnya.
Di sisi lain, prefektur Shizuoka yang terkenal dengan sencha, kini mulai beralih ke tencha. Yoshiaki Hattori, seorang pengusaha teh organik, telah membangun pabrik tencha 19 tahun lalu dan kini mengekspor 55 ton matcha per tahun, dengan permintaan yang terus berlipat. “Saya menerima permintaan dari 50 negara. Saya harus terus menggandakan produksi,” katanya. Namun, peralihan ini memicu penurunan produksi sencha hingga 25 persen dalam dekade terakhir, dan beberapa rumah teh kecil mulai gulung tikar. Yoriyuki Nakamura, direktur Tea Science Center di Universitas Shizuoka, mempertanyakan, “Harga sencha naik, tetapi apakah konsumen masih mau membeli?”
China tidak hanya memproduksi massal, tetapi juga membangun ekosistem. Perusahaan mesin pengolah matcha, Guizhou Jinsanye, menjual mesin dengan harga 40 persen lebih murah dari impor, sehingga memudahkan daerah lain masuk industri ini. Di Tongren, pengusaha Zhang Jun bahkan berinvestasi 6 juta yuan (US$890.000) untuk membuka restoran berbasis matcha, menyajikan mi, mantou, dan pangsit matcha. “Kami mengubah konsep dari minum teh menjadi makan teh,” katanya. Ini menunjukkan bagaimana matcha telah menjadi motor ekonomi lokal.
Namun, di pasar global, pertanyaan tentang otentisitas semakin mengemuka. Raymond Wang, direktur Wise Clubs and Entertainment yang memiliki dua kafe matcha di London, memilih memasok matcha dari Shizuoka karena alasan ketertelusuran dan kredibilitas. “Kualitas matcha China bagus, tetapi bagi bisnis makanan di Inggris, ketertelusuran lebih penting daripada harga,” ujarnya. Sementara itu, tea master di New York, Souheki Mori, mendesak adanya sertifikasi asal-usul dan kualitas untuk melindungi konsumen. Jepang pun merespons dengan mendaftarkan “Nihon Cha” sebagai nama yang dilindungi pada Juli lalu.
Bagi Indonesia, fenomena ini menghadirkan pelajaran berharga. Sebagai salah satu produsen teh terbesar di dunia, Indonesia bisa mengambil peran di pasar matcha global, baik sebagai produsen maupun pasar konsumen. Tren gaya hidup sehat dan konsumsi teh premium yang meningkat membuka peluang bagi produk teh lokal untuk bersaing. Namun, tanpa standar kualitas dan sertifikasi yang jelas, produk Indonesia bisa tersingkir. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan ikut meramaikan pasar matcha dunia, atau justru menjadi penonton di tengah persaingan Jepang-China?



