Asher-Smith Samai Rekor Legenda Eropa, Hunt Sabet Hat-trick Emas
Baca dalam 60 detik
- Sprinter Inggris Dina Asher-Smith kini sejajar dengan Irena Szewinska setelah mempersembahkan emas estafet 4x100m putri di Kejuaraan Eropa.
- Amy Hunt, yang sebelumnya meraih emas ganda 100m dan 200m, melengkapi koleksinya dengan emas ketiga lewat estafet.
- Hunt berpeluang mencatat sejarah sebagai atlet pertama dengan empat emas dalam satu edisi Kejuaraan Eropa pada nomor estafet campuran.

Dina Asher-Smith resmi mengukir namanya di buku sejarah atletik Eropa. Pada Sabtu (16/8), sprinter Inggris itu membantu negaranya merebut emas nomor estafet 4x100 meter putri di Birmingham, sekaligus menyamai rekor peraih medali terbanyak sepanjang sejarah Kejuaraan Atletik Eropa dengan koleksi 10 medali.
Kuartet Inggris yang terdiri dari Amy Hunt, Asher-Smith, Success Eduan, dan Imani Lansiquot tampil sempurna dengan catatan waktu 42,05 detik. Kemenangan ini menambah daftar prestasi Asher-Smith yang kini mengoleksi tujuh gelar juara Eropa, dua perak, dan satu perunggu. Capaian tersebut menempatkannya sejajar dengan legenda sprint Polandia, Irena Szewinska, yang mengumpulkan 10 medali pada periode 1966โ1978.
Di balik kesuksesan tim, Hunt tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Asher-Smith. Kepada BBC Sport, ia menyebut rekannya itu sebagai "kambing hitam"โistilah yang kerap dipakai untuk menyebut yang terbaik sepanjang masa. "Saya berdiri di samping GOAT yang sesungguhnya. Dia atlet Eropa paling berprestasi dalam sejarah," ujar Hunt. "Kami semua luar biasa. Eduan adalah seorang bidan, Lansiquot menulis drama. Sungguh menakjubkan bisa bersama mereka."
Bagi Hunt, kemenangan ini melengkapi hat-trick emas setelah sebelumnya ia memenangi nomor 100 meter dan 200 meter. Atlet berusia 24 tahun itu kini berpeluang mencatat sejarah pada Minggu (17/8) saat turun di nomor estafet campuran 4x100 meter. Jika berhasil, ia akan menjadi atlet pertama dalam 92 tahun sejarah kejuaraan yang meraih empat emas dalam satu edisi.
Keberhasilan Inggris menambah pundi-pundi medali mereka menjadi 12, dengan enam di antaranya emas. Sementara itu, Italia masih memimpin klasemen sementara dengan 17 medali menjelang hari terakhir kompetisi.
Bagi Indonesia, prestasi ini menjadi pengingat akan pentingnya pembinaan atlet sprint sejak dini. Meski Indonesia belum memiliki tradisi kuat di nomor lari cepat, keberhasilan Inggris menunjukkan bahwa konsistensi dan kerja sama tim mampu mengantarkan atlet ke panggung tertinggi Eropa. Federasi Atletik Indonesia (PASI) bisa menjadikan pencapaian ini sebagai inspirasi untuk menggenjot program pelatihan sprint, terutama dalam menghadapi SEA Games dan Asian Games.
Pertanyaan besarnya kini tertuju pada Hunt: akankah ia mampu memecahkan rekor yang belum pernah terjadi dalam sejarah 92 tahun kejuaraan? Jika ya, namanya akan dikenang setara dengan para legenda seperti Szewinska dan Asher-Smith. Dunia atletik menanti jawabannya di lintasan Birmingham, Minggu nanti.



