Gempa Flores 7,7 SR: 47 Tewas, Ribuan Mengungsi, Jalur Wisata Komodo Lumpuh
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,7 SR di Laut Flores menewaskan sedikitnya 47 orang dan melukai lebih dari 100 warga di enam kabupaten.
- Bencana ini merusak lebih dari 900 rumah dan 167 fasilitas umum, memaksa 5.000 orang mengungsi ke tempat penampungan sementara.
- Akses bantuan ke desa-desa terisolasi masih terhambat longsor dan putusnya komunikasi, sementara jalur menuju Taman Nasional Komodo ikut lumpuh.

Guncangan dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menewaskan sedikitnya 47 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi. Hingga Minggu (16/8/2026), tim penyelamat masih berjibaku membongkar puing-puing bangunan dan material longsor untuk mencari korban yang mungkin tertimbun.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban tewas tersebar di enam kabupaten, dengan Manggarai menjadi wilayah terdampak terparah. Sebanyak 24 jenazah ditemukan di kabupaten tersebut, disusul Manggarai Timur dengan 17 korban jiwa. Sementara itu, kabupaten Sikka, Ngada, dan Ende melaporkan tambahan korban yang masih terus diverifikasi.
Gempa yang terjadi Sabtu (15/8/2026) itu juga melukai lebih dari 100 orang dan merusak lebih dari 900 unit rumah. Sekitar 5.000 warga kini mengungsi di tenda-tenda darurat, sementara ribuan lainnya memilih bertahan di luar rumah karena takut akan gempa susulan. Data BNPB menyebut 167 fasilitas umum, termasuk sekolah, puskesmas, dan tempat ibadah, turut rusak.
Guncangan terasa hingga ke Nusa Tenggara Barat dan sebagian Sulawesi Selatan. Di Labuan Bajo, pintu gerbang Taman Nasional Komodo yang menjadi destinasi wisata kelas dunia, longsor menutup beberapa ruas Trans-Flores Highway, jalur sepanjang 700 kilometer yang menghubungkan berbagai kota di Pulau Flores. Kondisi ini memutus akses bantuan ke desa-desa terpencil yang masih terisolasi.
"Guncangannya sangat mengerikan, begitu kuat sampai rumah saya hampir roboh," ujar Anastasia Imad, seorang petani di Labuan Bajo, dari tenda darurat di samping rumahnya yang rusak. "Kami takut gempa susulan akan merobohkannya saat kami tidur."
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere, Fathur Rahman, mengatakan timnya telah membuka sebagian besar jalan yang tertutup longsor. Namun, gangguan komunikasi dan pemadaman listrik masih menghambat proses evakuasi. "Kami fokus mencari korban di reruntuhan rumah dan bangunan lain," katanya.
Indonesia, yang berada di Cincin Api Pasifik, memang langganan gempa dan letusan gunung berapi. Pulau Flores sendiri pernah mencatatkan bencana mematikan, seperti gempa dan tsunami 1992 yang menewaskan sekitar 2.500 orang. Sejarah kelam itu menjadi pengingat betapa rentannya kawasan timur Indonesia terhadap bencana geologis.
Pemerintah pusat dan daerah kini berfokus pada pemulihan infrastruktur vital, terutama jaringan listrik dan komunikasi, serta distribusi bantuan logistik ke wilayah terisolasi. Namun, dengan medan yang sulit dan ancaman gempa susulan, pertanyaan besarnya adalah: seberapa cepat layanan dasar dan roda ekonomi Flores, termasuk sektor pariwisata yang mengandalkan Labuan Bajo, dapat pulih kembali?



