Grup Ritmik Jepang Raih Tiket Olimpiade Los Angeles 2028, Bukti Dominasi Asia
Baca dalam 60 detik
- Jepang mengunci satu dari tiga kuota grup ritmik untuk LA 2028 setelah finis kedua di Kejuaraan Dunia Frankfurt.
- Pencapaian ini menjadi tiket Olimpiade pertama Jepang di semua cabang untuk edisi mendatang, menandai kebangkitan setelah gagal di Paris 2024.
- Keberhasilan ini menegaskan persaingan ketat dengan Spanyol dan Brasil, sekaligus memberi sinyal bagi negara Asia lainnya, termasuk Indonesia, untuk berbenah.

Frankfurt, 16 Agustus 2026 โ Tim senam ritmik grup Jepang memastikan diri menjadi negara pertama yang mengamankan tiket Olimpiade Los Angeles 2028 setelah meraih medali perak pada Kejuaraan Dunia di Frankfurt, Sabtu (16/8). Dengan total nilai 56,700 dari dua penampilan, Jepang finis di belakang Spanyol yang meraih emas dengan 57,450 poin, sementara Brasil melengkapi podium ketiga. Hasil ini sekaligus mengukuhkan tiga negara tersebut sebagai pemegang kuota awal untuk cabang senam ritmik nomor grup.
Bagi Jepang, pencapaian ini bukan sekadar tiket biasa. Ini adalah pertama kalinya sejak Olimpiade Tokyo 2021 mereka kembali lolos ke panggung Olimpiade untuk nomor grup. Lebih penting lagi, ini menjadi tiket Olimpiade pertama yang diraih Jepang di semua cabang olahraga untuk edisi LA 2028. Artinya, persiapan panjang yang dilakukan sejak dua tahun lalu kini membuahkan hasil nyata, jauh sebelum kualifikasi tahap berikutnya bergulir.
Kapten tim, Hisano Taguchi, yang juga anggota tim saat Jepang gagal melaju ke Paris 2024, mengungkapkan perasaan campur aduk setelah pertandingan. "Saya sangat terharu dan masih belum percaya ini terjadi," ujarnya, seperti dikutip Kyodo. "Kami berlatih di Jepang dengan persiapan khusus agar bisa tampil di bawah tekanan. Tekad kami untuk menuju Los Angeles lebih kuat dari siapa pun. Mengamankan tiket dengan usaha sendiri memberi kami kepercayaan diri yang luar biasa." Taguchi dan rekannya, Megumi Nishimoto, adalah dua dari enam anggota tim yang pernah merasakan pahitnya absen di Olimpiade Paris.
Keberhasilan Jepang ini menarik untuk dicermati dari perspektif Asia. Sebagai salah satu kekuatan senam ritmik dunia, Jepang menunjukkan bahwa konsistensi dan pembinaan atlet sejak dini mampu menembus dominasi negara-negara Eropa yang selama ini identik dengan cabang olahraga yang identik dengan estetika dan presisi ini. Spanyol, yang tampil superior dengan nilai tertinggi, tetap menjadi acuan, sementara Brasil menunjukkan bahwa negara di luar Eropa juga bisa bersaing di level tertinggi.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi pada cabang olahraga yang mungkin kurang populer namun memiliki peluang di kancah internasional. Senam ritmik di Indonesia masih berkembang, dan prestasi Jepang bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Tanah Air untuk menekuni cabang yang memadukan seni dan olahraga ini. Federasi Senam Indonesia (Persani) dapat menjadikan pencapaian ini sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembinaan, terutama dalam menghadapi SEA Games dan Asian Games yang menjadi batu loncatan menuju Olimpiade.
Dengan tiket pertama sudah diamankan, Jepang kini memiliki keleluasaan untuk mempersiapkan diri lebih matang tanpa tekanan kualifikasi. Namun, pertanyaan besarnya adalah: dapatkah mereka mempertahankan performa dan bersaing dengan Spanyol yang tampil dominan? Atau justru akan muncul kejutan dari negara-negara lain pada kejuaraan dunia berikutnya? Satu hal yang pasti, persaingan menuju Los Angeles 2028 baru saja dimulai, dan Jepang telah menempatkan diri di posisi terdepan.



