Kyrgios Kembali ke Wimbledon dengan Kontroversi: Makian ke Wasit dan Kekalahan di Ganda
Baca dalam 60 detik
- Nick Kyrgios kalah di babak pertama ganda putra Wimbledon 2025 bersama Alexander Bublik, setelah sempat memaki wasit dan mengaku tak peduli dengan denda.
- Petenis Australia peringkat 899 dunia itu absen dari tunggal karena tidak mendapat wildcard, dan baru kembali ke All England Club setelah cedera berkepanjangan.
- Insiden ini mengingatkan pada catatan disiplin Kyrgios yang pernah didenda total £14.500 pada edisi 2022, termasuk karena meludah ke arah penonton.

Kembalinya Nick Kyrgios ke Wimbledon setelah tiga tahun absen justru diwarnai aksi kontroversial. Petenis Australia itu melontarkan makian kepada wasit dan menyatakan tidak peduli meski harus didenda, setelah ia dan pasangannya, Alexander Bublik, tersingkir di babak pertama nomor ganda putra, Rabu (3/7).
Bermain di lapangan yang sama tempat ia mencapai final tunggal pada 2022, Kyrgios yang kini berusia 31 tahun tampil bersama Bublik sebagai pasangan non-unggulan. Mereka takluk 6-3, 6-4 dari unggulan keenam asal El Salvador dan Kroasia, Marcelo Arevalo dan Mate Pavic. Pertandingan yang hanya berlangsung satu jam 15 menit itu menjadi penampilan perdana Kyrgios di All England Club setelah kekalahannya dari Novak Djokovic di final tiga tahun lalu.
Ketegangan mulai terlihat saat Kyrgios kehilangan servisnya di awal set kedua. Wasit asal Prancis, Manuel Absolu, menegurnya, namun Kyrgios merespons dengan nada sinis. “Sejujurnya, pada titik ini Anda bisa mendenda saya, saya benar-benar tidak peduli,” ujarnya, seperti dikutip dari rekaman pertandingan. “Anda bisa mendenda saya. Semua aturan ini sangat bodoh.”
Pernyataan itu bukan sekadar luapan emosi. Pada Wimbledon 2022, Kyrgios tercatat dikenakan denda tiga kali dengan total £14.500 (sekitar Rp290 juta). Dua di antaranya akibat makian, dan satu lagi karena meludah ke arah penonton. Catatan disiplin yang buruk itu kembali menjadi sorotan di tengah upayanya bangkit dari cedera.
Kyrgios sebenarnya tidak mendapat wildcard untuk nomor tunggal putra, sehingga ia hanya bisa bermain di ganda. Keputusan panitia Wimbledon untuk tidak memberikan wildcard kepada mantan finalis ini menuai perdebatan. Namun, dengan peringkatnya yang anjlok dan minimnya hasil positif dalam dua tahun terakhir, langkah tersebut dinilai wajar oleh sebagian pengamat.
Bagi pecinta tenis Indonesia, kasus Kyrgios menjadi pengingat bahwa bakat mentah tanpa pengendalian diri bisa menghambat karier. Di tengah maraknya turnamen internasional yang disiarkan langsung di Tanah Air, perilaku kontroversial seperti ini kerap menjadi bahan diskusi tentang pentingnya sportivitas. Belum ada petenis Indonesia yang mampu menembus level grand slam, namun pelajaran dari karier Kyrgios—dari puncak final Wimbledon hingga terpuruk di peringkat 899—bisa menjadi refleksi bagi pembinaan atlet muda.
Ke depan, pertanyaan besar menggantung: mampukah Kyrgios kembali ke jalur prestasi tanpa harus terlibat kontroversi? Ataukah ia akan terus menjadi figur yang lebih dikenal karena ulahnya di luar lapangan daripada permainan tenisnya? Wimbledon 2025 mungkin menjadi titik balik—atau justru awal dari akhir karier seorang petenis yang dulu disebut sebagai calon juara grand slam.



