Swiatek Jinakkan Pliskova, Langkah Perkasa ke Babak Ketiga Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Iga Swiatek mengalahkan Karolina Pliskova 6-1, 6-3 di babak kedua Wimbledon, menunjukkan performa stabil setelah laga pertama yang dramatis.
- Kemenangan ini memperpanjang rekor Swiatek mencapai 32 besar Grand Slam ke-26 berturut-turut, hanya kalah dari Navratilova dan Martinez.
- Swiatek akan menghadapi Alexandra Eala di babak ketiga, yang disebutnya memiliki permainan rumit di permukaan rumput.

Juara bertahan Wimbledon, Iga Swiatek, menunjukkan kelasnya dengan menundukkan mantan petenis nomor satu dunia Karolina Pliskova dalam dua set langsung, 6-1, 6-3, di Centre Court, Kamis (2/7). Kemenangan ini mengantarkan petenis Polandia itu ke babak ketiga sekaligus memperpanjang dominasinya di turnamen Grand Slam.
Pliskova, yang sempat absen sepanjang musim 2025 akibat cedera ligamen pergelangan kaki, tampil dengan pukulan-pukulan keras khasnya. Namun, Swiatek yang kini mengoleksi enam gelar Grand Slam mampu meredam agresivitas lawan. Set pertama rampung dalam 25 menit, sementara set kedua sedikit lebih alot saat Pliskova sempat unggul 2-0 sebelum kehilangan servis berturut-turut akibat double fault.
"Saya merasa lebih stabil hari ini. Pertandingan pertama memang sangat emosional, tapi hari ini seperti hari biasa di kantor," ujar Swiatek usai laga. Ia menambahkan bahwa spin pukulannya memberinya kendali meskipun Pliskova bermain cepat dan datar.
Kemenangan ini juga mencatatkan rekor impresif: Swiatek kini telah mencapai babak 32 besar di 26 Grand Slam beruntun sejak AS Terbuka 2019. Hanya Martina Navratilova dan Conchita Martinez yang memiliki rentetan lebih panjang dalam sejarah tenis putri.
Di babak selanjutnya, Swiatek akan berhadapan dengan unggulan ke-29 asal Filipina, Alexandra Eala, yang sebelumnya menyingkirkan Maya Jointโpenakluk Serena Williams. Swiatek mengakui permainan Eala yang rumit, terutama di permukaan rumput, dan berjanji akan mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, performa Swiatek menjadi tontonan menarik mengingat Eala adalah petenis Asia yang tengah naik daun. Eala, yang pernah menjadi juara junior AS Terbuka, menunjukkan ketangguhan mental dengan bangkit dari ketertinggalan satu set untuk mengalahkan Joint. Pertemuan ini bisa menjadi ujian bagi Swiatek, yang belum pernah bertemu Eala sebelumnya.
Analis menilai bahwa konsistensi Swiatek di Grand Slam menjadi pembeda utama. "Dia jarang tampil buruk di turnamen besar. Kemampuannya membaca permainan lawan dan beradaptasi dengan cepat membuatnya sulit dikalahkan," kata seorang pengamat tenis. Namun, tantangan sesungguhnya mungkin datang di babak-babak akhir, di mana lawan-lawannya memiliki pengalaman lebih di lapangan rumput.
Dengan performa yang terus meningkat, Swiatek tetap rendah hati. Ketika diberi tahu bahwa Navratilova memberinya nilai A+, ia malah mengkritik permainannya sendiri. "Saya melakukan banyak pukulan kotor di game terakhir. Mungkin bukan A+, lebih ke B," candanya. Pertanyaan selanjutnya: mampukah ia mempertahankan gelar dan menuliskan namanya dalam sejarah Wimbledon?



