Arthur Fery, Petenis Kelahiran Prancis yang Kini Jadi Tumpuan Inggris di Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Petenis peringkat 114 dunia Arthur Fery menjadi satu-satunya wakil Inggris yang lolos ke putaran ketiga Wimbledon 2024.
- Fery menempuh jalur unik: lahir di Paris, besar di Wimbledon, lalu menimba ilmu dan tenis di Stanford University.
- Kehadiran Putri Catherine Wales di tribun penonton menambah sorotan pada performa Fery yang dijagokan sebagai harapan baru tenis Inggris.

Arthur Fery, petenis berusia 23 tahun yang lahir di pinggiran Paris dan besar di lingkungan Wimbledon, kini menjadi satu-satunya wakil tuan rumah yang masih bertahan di nomor tunggal putra All England Club. Pencapaian itu diraih setelah ia mengalahkan Otto Virtanen pada babak kedua, sekaligus mencatatkan namanya untuk pertama kalinya di putaran ketiga Grand Slam.
Fery bukanlah tipikal petenis Inggris pada umumnya. Ia lahir dari pasangan Prancis, Olivia—mantan pemain Fed Cup yang pernah bekerja di Lawn Tennis Association (LTA)—dan Loic, manajer aset yang juga pemilik klub Ligue 1, Lorient. Sejak kecil, Fery menghabiskan liburan di rumah kedua keluarga di La Rochelle, Prancis barat, serta berlatih di akademi dekat Nice. Pada usia 10 tahun ia sempat mewakili Prancis, namun tak lama kemudian beralih ke Inggris dan mengaku tidak pernah ragu dengan pilihannya.
"Saya merasa sepenuhnya orang Inggris sekarang. Mungkin 10 tahun lalu jawabannya berbeda, tapi kini hati saya sangat Inggris," ujar Fery kepada BBC Sport. Keputusan itu diperkuat oleh kenyataan bahwa ia tinggal di Wimbledon, berlatih di National Tennis Centre, dan menyerap sistem pembinaan LTA sejak remaja.
Jalur karier Fery juga tidak biasa. Alih-alih langsung menjadi profesional, ia memilih beasiswa di Stanford University, California, untuk mengambil gelar di bidang sains, teknologi, dan masyarakat. Sistem tenis kampus Amerika—dengan atmosfer bising, trash-talk, dan ikatan tim—membantunya mematangkan mental bertanding. "Pendidikan kelas dunia dan pengalaman di sana benar-benar membentuk saya," katanya.
Meski posturnya tidak setinggi 'servebot' yang mendominasi lapangan rumput, Fery memiliki senjata lain: kecepatan kaki, variasi pukulan, dan kemampuan voli yang tajam. Ia mengakui bahwa pengembalian servis dan pergerakan di lapangan adalah keunggulannya. "Tenis adalah olahraga di mana semua orang, dari berbagai tinggi, bisa berkembang dengan cara mereka sendiri," tegasnya.
Kehadiran Putri Catherine di tribun menambah semarak pertandingan, namun Fery mengaku baru tahu setelah laga usai. "Mungkin itu lebih baik, karena tidak menambah gugup," ujarnya. Ia juga menepis anggapan bahwa status sebagai satu-satunya wakil Inggris adalah beban. "Saya tidak melihatnya sebagai tekanan. Saya bermain untuk diri sendiri."
Bagi tenis Inggris yang tengah disorot tajam, langkah Fery menjadi secercah harapan. Namun, perjalanannya masih panjang. Cedera tulang lengan yang sempat menghambat, serta keputusan menunda karier demi pendidikan, menunjukkan bahwa Fery adalah tipe petenis yang sabar dan terencana. Pertanyaan besarnya: bisakah ia melangkah lebih jauh dan mengulang jejak Cameron Norrie atau Jacob Fearnley yang juga menempuh jalur kampus Amerika? Wimbledon tahun ini mungkin baru awal dari kisah yang lebih besar.



