Portugal Luncurkan Model AI Sumber Terbuka Amalia, Eropa Makin Gencar Kurangi Ketergantungan pada AS
Baca dalam 60 detik
- Portugal merilis model bahasa besar (LLM) sumber terbuka bernama Amalia, hasil kolaborasi universitas dan lembaga riset dengan dana €5,5 juta dari Uni Eropa.
- Langkah ini merupakan bagian dari gerakan kedaulatan AI Eropa yang juga diikuti Prancis dan Jerman, guna mengurangi dominasi penyedia AS seperti OpenAI dan Google.
- Amalia dirancang sebagai fondasi teknologi bagi institusi publik, perusahaan, dan peneliti untuk membangun aplikasi AI spesifik, termasuk di sektor perbankan, pertahanan, dan pendidikan.

Portugal resmi meluncurkan model kecerdasan buatan sumber terbuka pertamanya, Amalia, pada Rabu (1/7) di Lisbon. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya Eropa memperkuat kemandirian digital dan mengurangi ketergantungan pada raksasa teknologi Amerika Serikat seperti OpenAI, Google, dan Anthropic.
Model bahasa besar (large language model/LLM) yang dinamai dari mendiang ikon fado Amália Rodrigues itu dikembangkan oleh konsorsium universitas dan lembaga riset Portugal dengan dukungan pemerintah dan dana pemulihan Uni Eropa sebesar €5,5 juta (sekitar Rp96 miliar). Berbeda dengan model komersial yang langsung digunakan publik, Amalia dirancang sebagai teknologi dasar (foundation model) yang dapat diadopsi dan disesuaikan oleh institusi publik, perusahaan, universitas, dan peneliti untuk membangun aplikasi AI sesuai kebutuhan masing-masing.
Perdana Menteri Portugal, Luís Montenegro, dalam acara peluncuran menegaskan bahwa otonomi strategis Eropa saat ini tidak terlepas dari penguasaan AI. "Model ini memungkinkan kita menghadapi dekade mendatang dengan kedaulatan yang lebih besar dan ketergantungan yang lebih kecil," ujarnya. Montenegro juga menyebut Amalia akan mendorong produktivitas di sektor perbankan, asuransi, telekomunikasi, dan industri, seraya menjamin keamanan data. Pemerintah berkomitmen terus menggelontorkan investasi besar untuk proyek ini.
Langkah Portugal mengikuti jejak Prancis dan Jerman yang lebih dulu mendukung perusahaan AI lokal seperti Mistral AI dan Aleph Alpha. Gerakan ini mencerminkan kekhawatiran Eropa akan dominasi AS dalam teknologi AI, terutama setelah maraknya penggunaan model seperti GPT-4 dan Gemini. Dengan model sumber terbuka, Eropa berharap dapat membangun ekosistem AI yang lebih mandiri, transparan, dan sesuai dengan nilai-nilai regulasi ketat Uni Eropa, termasuk Undang-Undang AI yang baru disahkan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi dalam kecerdasan buatan nasional. Saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada platform AI global, baik untuk layanan publik maupun sektor swasta. Model sumber terbuka seperti Amalia bisa menjadi alternatif yang lebih murah dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal, seperti bahasa daerah atau regulasi spesifik. Namun, tantangan infrastruktur komputasi dan sumber daya manusia masih menjadi hambatan utama. Keberhasilan Portugal—negara dengan populasi lebih kecil dari Indonesia—dalam mengembangkan model AI sendiri menunjukkan bahwa dengan kemauan politik dan pendanaan yang tepat, negara berkembang pun bisa berperan dalam peta AI global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model-model nasional seperti Amalia mampu bersaing dengan raksasa AS dalam hal performa dan adopsi pasar. Atau, mungkinkah kolaborasi antarnegara Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, akan melahirkan ekosistem AI yang lebih seimbang? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: perlombaan kedaulatan AI baru saja dimulai.



