Kebakaran Hutan Terbesar dalam Sejarah Belgia: Ribuan Hektare Terbakar, Warga Dievakuasi
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di Taman Alam High Fens, Belgia, telah menghanguskan 1.600 hektare lahan dan memaksa evakuasi dua desa.
- Bantuan udara dari Swedia, Ceko, dan Belanda dikerahkan melalui mekanisme perlindungan sipil Uni Eropa untuk menjinakkan api.
- Peristiwa ini menjadi pengingat akan meningkatnya risiko kebakaran hutan di Eropa akibat gelombang panas ekstrem.

Kebakaran hutan yang melanda kawasan timur Belgia sejak Jumat (14/8) telah menghanguskan sedikitnya 1.600 hektare lahan dan memaksa ratusan warga mengungsi dari dua desa. Peristiwa ini disebut sebagai kebakaran terbesar dalam sejarah modern negara itu, dan hingga Sabtu sore api masih belum dapat dikendalikan sepenuhnya.
Kebakaran bermula di Taman Alam High Fens (Hautes Fagnes), kawasan hutan dan padang heather yang populer di kalangan pendaki, dekat perbatasan Jerman. Angin kencang dan suhu yang mencapai 37 derajat Celsius pada Jumat mempercepat penyebaran api. Otoritas regional Wallonia mengonfirmasi bahwa kobaran api telah melalap area seluas 16 kilometer persegi, dan upaya pemadaman terkendala medan yang sulit—perpaduan antara semak belukar, rawa gambut, dan papan kayu yang terangkat.
Warga di sebagian desa Sourbrodt dan Buetgenbach diperintahkan mengungsi pada Sabtu sore, sementara warga lain diminta tetap di dalam rumah dan menutup pintu serta jendela. Sebuah gimnasium di kotamadya tetangga disiapkan sebagai tempat penampungan. Nicolas Yernaux, juru bicara otoritas regional, menyatakan bahwa risiko api menjalar ke permukiman masih ada, tetapi semua sumber daya dikerahkan untuk melindungi rumah-rumah warga.
Menteri Dalam Negeri Belgia, Bernard Quintin, yang turun langsung ke lokasi bersama jurnalis AFP, mengaku terkejut melihat luasnya area yang terbakar. "Ketika Anda melihat bagaimana keadaan pagi ini dan sekarang, Anda hanya bisa terkejut," ujarnya. Namun, ia juga mengapresiasi kerja keras para petani yang secara sukarela membantu membasahi area sekitar dengan traktor dan alat semprot mereka. Di media sosial, banyak petani mengunggah foto saat menuju zona kebakaran untuk mendukung tim penyelamat.
Belgia dengan cepat mengaktifkan mekanisme perlindungan sipil Uni Eropa, yang memungkinkan negara tersebut meminta bantuan personel dan peralatan dari negara-negara anggota. Komisioner Eropa Hadja Lahbib mengonfirmasi bahwa dua pesawat pengebom air dari Swedia serta dua helikopter dari Ceko dan Belanda sedang dalam perjalanan menuju lokasi. "Situasi ini rumit dan sangat bergantung pada sumber daya udara," kata Yernaux.
Dampak ekonomi dan sosial mulai terasa. David Rodolfs, pemilik dua restoran di kawasan Waimes, menuturkan bahwa abu beterbangan hingga ke meja pelanggan, memaksa restorannya tutup lebih awal. "Tidak ada hidangan penutup, semua harus pergi," katanya. Gubernur provinsi Liege, Herve Jamar, mengungkapkan bahwa tawaran bantuan—mulai dari katering hingga dukungan di lapangan—terus berdatangan, tetapi ia meminta masyarakat tidak membebani saluran telepon pemadam kebakaran.
Kebakaran di Belgia ini terjadi hanya beberapa puluh kilometer dari kebakaran besar di Jerman barat, yang telah memaksa evakuasi sekitar 1.800 orang. Gelombang panas yang melanda Eropa dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama. Fenomena ini sejalan dengan tren peningkatan frekuensi kebakaran hutan di kawasan yang sebelumnya jarang mengalaminya, seperti Skandinavia dan Inggris.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan, yang kerap melanda wilayah Sumatera dan Kalimantan pada musim kemarau. Meskipun skala dan karakteristiknya berbeda, pelajaran tentang koordinasi lintas negara dan pemanfaatan teknologi pemadaman dari udara dapat menjadi referensi berharga.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah negara-negara Eropa akan memperkuat investasi dalam pencegahan kebakaran dan pengelolaan lanskap, atau justru semakin bergantung pada respons darurat yang mahal. Dengan perubahan iklim yang membuat gelombang panas semakin sering terjadi, kebakaran seperti ini mungkin bukan lagi pengecualian, melainkan ancaman rutin yang harus dihadapi.



