Audrey Werro Kalahkan Keely Hodgkinson, Rebut Emas 800m Eropa: Awal Era Baru Lari Jarak Menengah?
Baca dalam 60 detik
- Pelari Swiss berusia 22 tahun, Audrey Werro, mencatatkan kemenangan mengejutkan atas juara Olimpiade Keely Hodgkinson di final 800m Kejuaraan Atletik Eropa, sehari setelah jatuh di semifinal.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Werro yang telah memecahkan rekor waktu tercepat dalam 43 tahun, sekaligus menggeser posisi Hodgkinson yang selama ini menjadi favorit.
- Dengan waktu 1:54.81, Werro kini menjadi ancaman serius menjelang Kejuaraan Dunia di Budapest, memicu persaingan baru yang menarik di nomor 800m putri.

Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham menyajikan drama yang jarang terjadi: Audrey Werro, pelari muda Swiss, berhasil menumbangkan juara Olimpiade Keely Hodgkinson di nomor 800 meter putri. Kemenangan ini bukan sekadar merebut medali emas, melainkan sinyal pergeseran kekuatan di lari jarak menengah dunia. Werro, yang baru berusia 22 tahun, finis dengan catatan waktu 1 menit 54,81 detik, meninggalkan Hodgkinson yang harus puas di posisi kedua dengan 1:55,01.
Yang membuat kemenangan ini semakin heroik adalah kondisi Werro sehari sebelumnya. Ia mengalami jatuh di semifinal setelah bersenggolan dengan pelari Perancis, Anais Bourgoin. Meski finis terakhir, ia akhirnya diizinkan tampil di final setelah protes tim Swiss diterima. Dari situ, ia bangkit dan tampil percaya diri sejak start, memimpin hingga garis finis. "Dua puluh empat jam terakhir penuh naik turun, saya sangat bahagia dengan medali ini," ujarnya usai lomba.
Bagi Hodgkinson, kekalahan ini tentu mengecewakan, terutama karena ia adalah juara bertahan. Namun, ia tetap menunjukkan sportivitas. "Perasaan saya campur aduk. Dengan level persaingan seperti ini, medali apa pun adalah pencapaian yang bagus. Tapi saya ingin mempertahankan gelar," katanya kepada BBC. Ia juga mengakui persaingan di nomor 800m putri semakin ketat, dan hal itu justru memotivasinya untuk tampil lebih baik.
Kemenangan Werro juga membuka babak baru dalam rivalitas yang menarik. Hodgkinson, yang selama ini menjadi acuan di nomor 800m, kini harus berbagi panggung dengan Werro. Keduanya akan kembali bertemu di Kejuaraan Dunia di Budapest bulan depan. Pertanyaan besarnya: apakah kemenangan Werro ini hanya kebetulan, atau awal dari dominasi baru? Para pengamat menilai bahwa konsistensi Werro dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa ia bukan sekadar penantang, melainkan calon ratu baru lari jarak menengah.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meski atletik Indonesia belum berada di level tersebut, kisah Werro mengajarkan bahwa kerja keras dan ketahanan mental bisa mengubah nasib. Federasi Atletik Indonesia (PASI) bisa mengambil pelajaran dari bagaimana Werro bangkit setelah kegagalan di semifinal. Selain itu, persaingan ketat di level dunia seperti ini bisa menjadi motivasi bagi pelari muda Indonesia untuk berani bermimpi lebih tinggi, sekaligus menunjukkan bahwa atletik adalah olahraga yang penuh kejutan.
Sementara itu, di nomor lain, Karsten Warholm dari Norwegia kembali menunjukkan dominasinya dengan meraih gelar Eropa keempat berturut-turut di 400 meter gawang, memecahkan rekor juara dengan 46,63 detik. Gianmarco Tamberi dari Italia juga sukses mempertahankan gelar lompat tinggi dengan catatan 2,32 meter. Kejuaraan ini memang menjadi panggung bagi para atlet untuk mengukir sejarah, dan Werro telah menuliskan namanya dengan tinta emas.



