Kapten Tottenham Cristian Romero Sepakat Gabung Atletico Madrid, Spurs Terima Tawaran £34,2 Juta
Baca dalam 60 detik
- Atletico Madrid dan Tottenham mencapai kesepakatan awal transfer Cristian Romero senilai £34,2 juta plus bonus, dengan klausul penjualan kembali 15 persen.
- Kepergian Romero dianggap sebagai akhir dari era yang penuh kontroversi di Tottenham, di mana ia sering menjadi sorotan karena kartu merah dan sikapnya yang dinilai kurang totalitas.
- Kesepakatan ini membuka peluang bagi Tottenham untuk merombak skuad dan membangun kembali tim di bawah arahan pelatih baru, dengan fokus pada pemain yang lebih berkomitmen.

Atletico Madrid akhirnya mencapai kesepakatan dengan Tottenham Hotspur untuk memboyong bek tengah andalan Argentina, Cristian Romero, di bursa transfer musim panas ini. Nilai transfer dilaporkan mencapai £34,2 juta (sekitar €40 juta) dengan tambahan bonus, plus klausul penjualan kembali sebesar 15 persen. Kesepakatan ini mengakhiri spekulasi panjang mengenai masa depan pemain berusia 28 tahun yang kontraknya di Spurs masih tersisa hingga 2029.
Kepergian Romero bukanlah kejutan besar. Sejak awal bursa, ia dikaitkan dengan sejumlah klub elite Eropa, termasuk Inter Milan dan Arsenal. Namun, sang pemain dikabarkan lebih memilih bergabung dengan Atletico, yang memang telah lama meminatinya. Ketertarikan Arsenal sempat mencuat, tetapi Tottenham enggan melepas kaptennya ke rival sekota, mengingat sejarah panjang hubungan kedua klub yang jarang melakukan transaksi pemain.
Selama lima musim membela Tottenham, Romero mencatatkan 124 penampilan dan mencetak 12 gol. Namun, ia juga kerap menjadi sorotan karena disiplinnya yang buruk, dengan empat kartu merah di Premier League. Musim lalu, ia dua kali diusir wasit dan mengalami cedera lutut yang membuatnya absen di akhir musim. Kritik publik semakin tajam ketika ia sempat dikabarkan lebih memilih menonton final liga Argentina daripada laga krusial Spurs melawan Everton, meski akhirnya ia tetap hadir di pertandingan tersebut.
Keputusan Tottenham untuk melepas Romero juga dipengaruhi oleh kedatangan dua bek baru, Jan Paul van Hecke dan Marcos Senesi. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari perombakan skuad yang lebih luas, sejalan dengan target klub untuk membangun kembali tim yang lebih solid dan kompetitif. Namun, nilai transfer Romero terbilang lebih rendah dibandingkan dengan bek muda Luka Vuskovic yang dijual ke Brighton dengan rekor klub sebesar £50 juta, meski Vuskovic belum pernah tampil di tim utama.
Analis sepak bola Michael Bridge dari Sky Sports menilai Tottenham tidak akan mendapatkan nilai sepadan untuk pemain sekelas Romero. "Spurs tidak akan mendapatkan nilai untuk pemain sek kemampuannya. Vuskovic yang tidak pernah tampil kompetitif untuk Spurs akan dijual lebih mahal daripada kapten klub karena ia pergi ke klub Premier League," ujarnya. Menurut Bridge, kepergian Romero adalah yang terbaik untuk semua pihak, mengingat sikapnya yang dinilai kurang totalitas untuk Tottenham. "Dia memuja Argentina, dan tidak ada yang salah dengan itu, tetapi rasanya Tottenham seperti beban baginya," tambahnya.
Mantan gelandang Tottenham, Jamie O'Hara, juga menyuarakan kritik pedas terhadap Romero. "Dia sedikit menjadi beban. Saat dia bermain, dia membuat kami kehilangan poin dan mendapat kartu merah," ujarnya. O'Hara menilai sikap Romero di akhir musim lalu, termasuk menangis karena cedera yang lebih berkaitan dengan Argentina, menunjukkan kurangnya komitmen. "Dia pergi ke Argentina di hari terakhir musim, dan semua orang bertanya, 'Di mana Romero?' Situasi ini harus diakhiri," tegasnya.
Bagi Tottenham, penjualan Romero ke Atletico memang tidak akan menghasilkan keuntungan besar. O'Hara mengakui bahwa klub-klub Eropa tidak memiliki daya beli sekuat klub Premier League, sehingga Spurs harus menerima kenyataan menerima fee yang lebih rendah. "Jika menjual ke Manchester United, mungkin bisa dapat £60-70 juta. Tetapi karena dia ingin ke Atletico, kita harus menerima kenyataan," katanya. Ia juga menyoroti insiden saat Spurs kalah 0-3 dari Nottingham Forest, di mana Romero tidak melacak pemain lawan yang mencetak gol kedua. "Itu terjadi saat tim membutuhkan kaptennya, dan dia tidak ada di sana," kenang O'Hara.
Konteks transfer ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Meski tidak berdampak langsung pada sepak bola nasional, pergerakan pemain bintang seperti Romero selalu menjadi sorotan penggemar di Tanah Air. Banyak penggemar yang mengikuti perkembangan Liga Inggris dan La Liga, sehingga berita ini relevan untuk disimak. Selain itu, kebijakan transfer Tottenham yang lebih berhati-hati dalam pengeluaran bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang sedang berbenah, terutama dalam hal manajemen keuangan dan perencanaan skuad jangka panjang.
Dengan kepergian Romero, Tottenham memasuki babak baru. Kehadiran Van Hecke dan Senesi diharapkan mampu memperkuat lini pertahanan dan membawa perubahan positif di ruang ganti. Pertanyaannya, mampukah Spurs menggantikan sosok pemimpin sekaligus kualitas Romero? Atau justru ini menjadi awal dari era baru yang lebih sukses di bawah arahan pelatih anyar? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: para penggemar akan mengawasi langkah selanjutnya dari kedua klub dengan penuh antisipasi.



