Google Lampaui Target Investasi Rp15 Triliun di Afrika, Fokus pada AI dan Infrastruktur Digital
Baca dalam 60 detik
- Google mengumumkan telah melampaui komitmen investasi US$1 miliar di Afrika dalam lima tahun, dengan proyek anyar di bidang konektivitas dan kecerdasan buatan.
- Raksasa teknologi itu akan membangun hub konektivitas di Afrika Selatan dan laboratorium AI terapan pertama di Ghana, membuka peluang bagi startup dan kreator lokal.
- Langkah ini memperkuat posisi Google di pasar berkembang Afrika dan bisa menjadi preseden bagi ekspansi serupa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Google resmi melampaui target investasi senilai US$1 miliar (sekitar Rp15 triliun) di Afrika dalam periode lima tahun, demikian diumumkan perusahaan dalam KTT Cloud Afrika pertama di Johannesburg, Rabu (1/7). Komitmen yang dicanangkan sejak 2021 itu kini diperluas dengan serangkaian inisiatif baru yang menyasar pengembangan infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI) di benua tersebut.
Langkah ini menjadi kelanjutan dari peluncuran layanan cloud Google di kawasan Johannesburg pada 2025. Kini, perusahaan milik Alphabet Inc. itu berencana membangun pusat konektivitas di Eastern Cape, Afrika Selatan, sebagai yang pertama dari empat hub serupa di Afrika. Fasilitas ini akan menghubungkan Afrika dengan Australia melalui kabel bawah laut Umoja dan membuka jalur baru menuju India, meningkatkan ketahanan dan kapasitas internet di kawasan.
Di sisi pengembangan sumber daya manusia, Google mengumumkan pendirian laboratorium AI terapan pertama di Afrika yang berlokasi di Ghana. Laboratorium ini akan mempertemukan startup lokal dengan peneliti Google serta memberikan akses awal ke model-model AI terbaru. Selain itu, Google bermitra dengan aktor Inggris Idris Elba melalui Akuna Group untuk meluncurkan program senilai lebih dari US$1 juta yang bertujuan melatih kreator dari kalangan kurang terwakili dalam bercerita berbasis AI.
Di tingkat komunitas, Google bersama WeThinkCode berkomitmen membangun pusat inovasi digital senilai 3 juta rand (sekitar Rp1,8 miliar) di Soweto, Johannesburg. Pusat ini diharapkan menjadi wadah pengembangan keterampilan digital bagi masyarakat setempat. Sementara itu, program akselerator startup Google akan mendukung 15 perusahaan asal Afrika Selatan, sebagai bagian dari janji perusahaan untuk membiayai 50 usaha rintisan Afrika antara 2024 dan 2028.
James Manyika, Wakil Presiden Senior Riset dan Teknologi Google, menekankan besarnya peluang AI bagi Afrika. "Peluang AI di Afrika sangat signifikan, dan Google berkomitmen untuk bekerja sama dengan warga Afrika mewujudkannya," ujarnya dalam konferensi pers. Pernyataan ini menggarisbawahi strategi Google yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pemberdayaan talenta lokal melalui AI.
Bagi Indonesia, langkah agresif Google di Afrika menawarkan pelajaran berharga. Dengan populasi muda yang besar dan penetrasi internet yang terus tumbuh, Indonesia memiliki potensi serupa untuk menjadi pusat inovasi digital. Namun, tantangan seperti kesenjangan infrastruktur dan keterbatasan akses terhadap teknologi AI masih perlu diatasi. Jika Google berhasil di Afrika, bukan tidak mungkin model serupa akan diterapkan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam beberapa tahun mendatang.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah inisiatif Google di Afrika akan benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif, atau justru memperkuat dominasi perusahaan teknologi besar di pasar berkembang. Dengan investasi yang terus mengalir, Afrika mungkin menjadi uji coba bagi model kolaborasi antara korporasi global dan ekosistem lokal yang bisa direplikasi di belahan dunia lain.



