Bruce Foxton, Bassis The Jam, Berjuang Melawan Parkinson dan Kanker
Baca dalam 60 detik
- Bruce Foxton, bassis legendaris The Jam, mengumumkan diagnosis Parkinson yang terungkap setelah pengobatan kanker.
- Musisi 70 tahun itu membatalkan sejumlah konser karena infeksi dada dan cuaca ekstrem, namun bertekad terus manggung.
- Diagnosis ini menjadi pukulan berat, tetapi Foxton berkomitmen menjalani hidup dan bermusik selama mungkin.

Bruce Foxton, bassis grup legendaris asal Inggris The Jam, mengumumkan bahwa dirinya didiagnosis mengidap penyakit Parkinson. Kabar ini disampaikan musisi berusia 70 tahun itu melalui unggahan Facebook, setelah ia membatalkan dua konser di Kidderminster dan Lincoln pekan lalu karena cuaca panas ekstrem dan infeksi dada.
Foxton mengungkapkan bahwa diagnosis Parkinson terungkap secara tidak sengaja saat ia menjalani investigasi kesehatan lanjutan pasca pengobatan kanker. Sebelumnya, pada 2023, ia menjalani imunoterapi setelah ditemukan kelenjar getah bening yang mengandung sel kanker. "Perawatan kanker itu sendiri menyebabkan beberapa masalah signifikan bagi saya, dan investigasi terhadap semua itu mengungkap fakta bahwa saya kini harus hidup dengan penyakit Parkinson," tulisnya dalam pernyataan yang dikutip dari akun Facebook pribadinya.
Penyanyi dan penulis lagu yang namanya melambung bersama The Jam di era 1970-an dan 1980-an itu mengaku syok berat menerima diagnosis tersebut. "Seperti siapa pun yang menghadapi diagnosis ini, ini adalah kejutan besar. Butuh waktu lama untuk menerima bahwa tubuh dan pikiran saya berurusan dengan sesuatu yang sepenuhnya di luar kendali," ujarnya. Meski demikian, Foxton bertekad untuk terus bermusik selama masih mampu. "Saya akan terus bekerja keras setiap hari untuk memberikan penampilan terbaik yang saya bisa," tambahnya.
Keputusan untuk berhenti tur bersama From the Jamโband yang dibentuk oleh mantan drummer The Jam, Rick Buckler yang meninggal pada 2025 di usia 69 tahunโdiambil pada Mei 2025. Namun, dengan diagnosis resmi dan obat yang tepat, Foxton merasa mendapat kesempatan kedua untuk melanjutkan apa yang ia cintai. "Respons dan cinta yang kami rasakan di pertunjukan kami luar biasa. Dengan bantuan kalian, saya akan terus maju dan bermain langsung selama saya mampu melakukannya," katanya.
Kabar ini menjadi pengingat akan perjuangan para musisi legendaris melawan penyakit degeneratif. Di Indonesia, kesadaran akan penyakit Parkinson masih relatif rendah, padahal jumlah penderitanya diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya usia populasi. Menurut data Kementerian Kesehatan, prevalensi Parkinson di Indonesia mencapai sekitar 1-2 per 1.000 penduduk, dengan sebagian besar pasien berusia di atas 60 tahun. Kisah Foxton bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk tidak menyerah pada kondisi kesehatan yang menantang.
Foxton menutup pernyataannya dengan optimisme. "Saya akan bekerja keras setiap hari untuk memberikan penampilan terbaik yang mungkin. Beberapa hari lebih baik dari yang lain, tetapi saya bertekad untuk terus bermain selama saya bisa," pungkasnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah ia dapat tampil di panggung-panggung besar lagi, atau akankah penyakit ini memaksanya pensiun lebih awal? Hanya waktu yang akan menjawab, namun semangat Foxton patut diacungi jempol.



