Chelsea Meniru Pola Juara 2016-17: Bisakah Alonso Mengulang Keajaiban Conte?
Baca dalam 60 detik
- Chelsea finis ke-10 musim lalu, tetapi catatan statistik mereka nyaris identik dengan musim 2015-16 yang diikuti gelar juara setahun kemudian.
- Tanpa kompetisi Eropa, The Blues berpotensi meraih tambahan poin signifikan, seperti yang terjadi pada sembilan dari sepuluh tim 'Big Six' sebelumnya.
- Alonso, yang pernah membawa Leverkusen juara Bundesliga tanpa kalah, dianggap sebagai sosok tepat untuk mengulang transformasi ala Conte.

LONDON โ Chelsea kembali berada di persimpangan yang familier. Setelah finis ke-10 pada Premier League musim lalu, klub London Barat itu kini menatap musim 2025-26 dengan pelatih baru, Xabi Alonso, dan tanpa beban kompetisi Eropa. Pertanyaannya, akankah sejarah 10 tahun lalu terulang: dari papan tengah menjadi juara dalam satu musim?
Musim 2015-16, Chelsea yang ditangani Guus Hiddink hanya mengoleksi 50 poin, terpaut 31 poin dari juara Leicester City. Kini, catatan mereka nyaris identik: selisih gol sama, hanya unggul dua poin. Namun, setahun setelah itu, Antonio Conte datang dan mengubah segalanya. Dengan formasi tiga bek, Chelsea memenangi 13 laga beruntun dan menutup musim dengan 93 poin, gelar juara, dan rekor peningkatan poin terbesar dalam sejarah Premier League: 43 poin.
Alonso, yang pernah membawa Bayer Leverkusen juara Bundesliga 2023-24 tanpa terkalahkan dengan formasi tiga bek, diyakini bisa melakukan hal serupa. Namun, mengejar peningkatan 43 poin lagi adalah tugas yang hampir mustahil. Untungnya, standar juara Premier League belakangan ini menurun. Arsenal musim lalu hanya mengumpulkan 84 poin, yang merupakan yang terendah kedua sejak Leicester 2015-16. Artinya, Chelsea mungkin tidak perlu mencapai 93 poin untuk menjadi juara.
Terlepas dari posisi akhir yang buruk, performa fundamental Chelsea musim lalu sebenarnya tidak seburuk itu. Berdasarkan expected goals (xG), mereka adalah tim paling dominan keempat di liga. Masalahnya, penyelesaian akhir yang buruk: mereka mencetak delapan gol lebih sedikit dari yang seharusnya, dengan 58 gol dari xG 66,3. Bahkan, dalam lima laga beruntun tanpa gol pada Maret-April, mereka melepaskan 73 tembakan dengan xG 5,5, tetapi gagal mencetak satu pun golโsebuah anomali yang tidak mungkin terulang.
Keuntungan lain adalah absennya Chelsea dari kompetisi Eropa musim ini. Sejak 2010-11, sembilan dari sepuluh tim 'Big Six' yang tidak bermain di Eropa berhasil finis lebih tinggi, dengan rata-rata kenaikan lima posisi dan tambahan 16 poin. Liverpool pada 2013-14 bahkan nyaris juara setelah finis ketujuh dan tanpa Eropa, menambah 23 poin. Manchester United musim lalu juga naik 29 poin setelah fokus ke liga domestik.
Alonso sendiri sudah membuktikan kemampuannya di Leverkusen. Mengambil alih saat tim di zona degradasi pada Oktober 2022, ia membawa mereka ke posisi enam dengan 50 poinโsama dengan Chelsea musim lalu. Musim berikutnya, Leverkusen meroket dengan tambahan 40 poin dan menjuarai Bundesliga tanpa kekalahan. Jika Alonso bisa mengulang pola itu di Stamford Bridge, bukan tidak mungkin Chelsea mengikuti jejak Conte.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah ini menarik karena menunjukkan bahwa perubahan manajer dan fokus penuh ke liga domestik bisa mengubah nasib tim besar. Di Liga 1, beberapa klub seperti Persib Bandung dan Bali United juga pernah mengalami tren serupa ketika fokus tanpa beban kompetisi lain. Namun, yang membedakan adalah kualitas skuad dan kedalaman taktik pelatih.
Meski demikian, tantangan tetap besar. Arsenal, Liverpool, dan Manchester City masih menjadi favorit. Chelsea perlu memperbaiki penyelesaian akhir dan konsistensi. Namun, dengan skuad yang lebih baik dari yang terlihat, jadwal satu pekan sekali, dan Alonso yang sudah terbukti, peluang itu tidak mustahil. Pertanyaannya, akankah sejarah benar-benar berulang, atau justru menjadi mimpi yang kandas di tengah jalan?



