Gelombang Panas Prancis: Angka Kematian Melonjak 30%, Paris Terparah
Baca dalam 60 detik
- Otoritas kesehatan Prancis melaporkan lonjakan kematian hampir 30% pada pekan puncak gelombang panas Juni lalu, dengan 2.025 kematian tambahan.
- Wilayah Paris mencatat kenaikan 62%, memicu kritik politik dan mosi tidak percaya terhadap pemerintah atas respons yang dinilai lamban.
- Meski suhu lebih ekstrem dibanding 2003, angka kematian diperkirakan lebih rendah berkat sistem peringatan dini, namun masih di atas 5.700 jiwa tahun lalu.

Gelombang panas yang melanda Prancis pada akhir Juni lalu tidak hanya memecahkan rekor suhu, tetapi juga merenggut nyawa secara signifikan. Otoritas kesehatan setempat mencatat lonjakan angka kematian hingga 29,1 persen pada pekan yang berakhir 28 Juni, dengan total 2.025 kematian tambahan dibandingkan pekan sebelumnya. Angka ini, menurut laporan Public Health France, kemungkinan masih di bawah jumlah sebenarnya.
Wilayah Paris menjadi episentrum dampak mematikan gelombang panas tersebut. Selama pekan yang dimulai 22 Juni, jumlah kematian di ibu kota Prancis melonjak hingga 62 persen. Kenaikan serupa juga dilaporkan di wilayah Pays de la Loire, barat daya Prancis. Kondisi ini memicu reaksi politik yang keras, termasuk mosi tidak percaya yang diajukan Partai Hijau terhadap Perdana Menteri Sebastien Lecornu pada Kamis (2/7). Para kritikus menilai pemerintah gagal menyiapkan langkah mitigasi yang memadai untuk menghadapi suhu ekstrem yang kian sering terjadi.
Gelombang panas Juni 2026 berlangsung sekitar 11 hari, dengan suhu di banyak tempat menembus 40 derajat Celsius. Meskipun lebih intens dibandingkan gelombang panas mematikan tahun 2003 yang menewaskan sekitar 15.000 orang, otoritas Prancis mengklaim dampaknya tidak separah saat itu. Menteri Kesehatan Stephanie Rist menyatakan, "Kemungkinan besar tidak akan sebanding." Namun, Direktur Jenderal Rumah Sakit Paris, Nicolas Revel, memperkirakan jumlah korban jiwa masih akan lebih tinggi dibandingkan episode tahun lalu yang merenggut 5.700 jiwa.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi negara-negara tropis seperti Indonesia, yang kerap menghadapi suhu tinggi akibat perubahan iklim. Meskipun Prancis memiliki infrastruktur kesehatan yang maju, lonjakan kematian tetap terjadi, terutama di kota padat seperti Paris. Bagi Indonesia, tantangan serupa bisa lebih berat mengingat kepadatan penduduk di kota-kota besar dan keterbatasan akses pendingin ruangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pengalaman Prancis menunjukkan bahwa sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menjadi kunci menekan angka kematian, namun tetap tidak cukup tanpa adaptasi infrastruktur jangka panjang.
Ke depan, pertanyaan mendesak adalah apakah negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, mampu belajar dari lonjakan kematian di Prancis untuk merancang kebijakan adaptasi iklim yang lebih efektif. Tanpa langkah konkret, gelombang panas yang semakin sering dan ekstrem berpotensi menjadi krisis kesehatan masyarakat yang berulang.



