Tyga Balas Sindiran Doja Cat soal Album AI: 'Dia Bikin Album Setan'
Baca dalam 60 detik
- Perseteruan Tyga dan Doja Cat memanas setelah sang rapper meluncurkan album $tarface yang digarap dengan bantuan AI, memicu kritik tajam dari lawan kolaborasinya itu.
- Tyga membela penggunaan AI sebagai alat produksi, menegaskan lirik dan vokal tetap orisinal, sembari menyindir album terbaru Doja Cat sebagai 'demonic'.
- Perdebatan ini menyoroti pergeseran industri musik global menuju adopsi AI, dengan implikasi bagi musisi Indonesia yang mulai mengeksplorasi teknologi serupa.

Perseteruan antara dua musisi Amerika, Tyga dan Doja Cat, kembali memanas setelah Tyga meluncurkan album terbarunya yang digarap dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Doja Cat, yang pernah berkolaborasi dalam dua lagu bersamanya, melontarkan kritik pedas dalam siaran langsung di media sosial, menyebut Tyga 'penis' karena berani merilis album berbau AI. Tyga pun tak tinggal diam; dalam wawancara dengan TMZ Live, ia membalas dengan sindiran tajam, menyebut album terbaru Doja Cat sebagai 'demonic' atau setan.
Pertengkaran ini bermula dari keputusan Tyga untuk menggunakan AI dalam proses produksi album $tarface, yang mengusung nuansa musik era 1980-an. Dalam wawancara dengan majalah VIBE, Tyga mengungkapkan bahwa AI digunakan sebagai alat untuk menciptakan pengalaman dan perasaan tertentu bagi pendengar. Namun, langkah ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan musisi, terutama karena Tyga sendiri sadar akan potensi kecaman. Ia membandingkan penggunaan AI dengan kemunculan AutoTune di masa lalu, yang awalnya ditolak banyak pihak namun akhirnya diadopsi oleh para musisi besar.
Doja Cat, yang dikenal dengan gaya bermusik eksperimental, melontarkan komentar sinisnya saat siaran langsung, tanpa diminta pendapatnya tentang Tyga. Ia menilai penggunaan AI dalam bermusik sebagai tindakan yang tidak pantas, meskipun ia tidak menyebutkan secara spesifik album mana yang ia maksud ketika Tyga membalas. Tyga, di sisi lain, mengklarifikasi bahwa AI hanya digunakan untuk keperluan produksi, sementara lirik dan vokal tetap ia kerjakan sendiri secara langsung. Ia juga menegaskan bahwa karakter $TARFACE dalam albumnya adalah entitas artistik yang terpisah dari dirinya, dengan estetika yang benar-benar baru.
Pertikaian ini terjadi di tengah upaya Tyga untuk mereinvensi musiknya setelah berkarier lebih dari 15 tahun. Dalam wawancara dengan People, ia mengungkapkan keinginannya untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru, tanpa terikat aturan kreatif yang kaku. Album $tarface menjadi proyek pertamanya yang benar-benar berbeda dari karya-karya sebelumnya, baik dari segi konsep maupun eksekusi. Namun, keputusan untuk menggunakan AI justru memicu kontroversi yang tak terduga, terutama dari rekan sejawatnya sendiri.
Fenomena penggunaan AI dalam industri musik sebenarnya bukan hal baru, tetapi kasus Tyga dan Doja Cat menunjukkan betapa sensitifnya isu ini di kalangan musisi. Di Indonesia, perdebatan serupa mulai mengemuka seiring dengan maraknya penggunaan AI dalam produksi musik, baik oleh musisi independen maupun label besar. Beberapa musisi tanah air mulai bereksperimen dengan AI untuk menciptakan aransemen atau bahkan meniru suara penyanyi tertentu, yang memicu pertanyaan tentang orisinalitas dan hak cipta.
Ke depan, perseteruan ini bisa menjadi cermin bagi industri musik global tentang bagaimana teknologi baru diterima. Apakah AI akan menjadi alat yang memperkaya kreativitas, atau justru mengancam esensi seni? Jawabannya mungkin belum jelas, tetapi yang pasti, musisi seperti Tyga dan Doja Cat telah membuka diskusi yang lebih luas tentang masa depan musik di era digital.



