Kondisi Perez Hilton Memburuk: Pemulihan Butuh Waktu Lama, Hak Asuh Anak Beralih ke Sang Ibu
Baca dalam 60 detik
- Perez Hilton masih dirawat intensif di rumah sakit setelah insiden melukai diri saat siaran langsung TikTok, dan keluarganya menyatakan proses pemulihan fisik serta mentalnya akan berlangsung lama.
- Sang ibu, Teresita Lavandeira, telah mengajukan permohonan hak asuh sementara untuk tiga cucunya, yang disetujui secara sukarela oleh Perez demi kepentingan terbaik anak-anak.
- Pihak keluarga enggan memberikan tenggat waktu kepulangan Perez, menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah perawatan medis dan dukungan psikologis tanpa terburu-buru.

Mario Armando Lavandeira Jr., yang dikenal sebagai Perez Hilton, masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah insiden melukai diri sendiri yang disiarkan langsung di TikTok pekan lalu. Kondisinya disebut kritis namun stabil, dan keluarga kini buka suara mengenai proses pemulihan yang panjang.
Barbara Lavandeira, saudara perempuan Perez, mengungkapkan bahwa sang selebritas tidak memiliki akses ke ponsel, media sosial, atau internet selama masa perawatan. "Fokus semua orang adalah membantunya pulih secara fisik dan memastikan dia menerima perawatan mental dan emosional yang dia butuhkan," ujarnya kepada PageSix. Ia menambahkan bahwa tidak ada kepastian kapan Perez bisa pulang, karena tim dokter masih terus memantau kondisinya.
Di tengah situasi ini, ibunda Perez, Teresita Lavandeira, telah mengajukan permohonan hak asuh sementara untuk ketiga cucunya: Mario (13), Mia (11), dan Mayte (8). Dokumen yang diajukan di Miami, Florida, menunjukkan bahwa Perez secara sukarela menyetujui permohonan tersebut. Dalam pernyataannya, Perez mengakui bahwa keputusan ini demi kepentingan terbaik anak-anak dan bersedia mengikuti rencana transisi yang wajar sebelum hak asuh dikembalikan.
Langkah ini diambil untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan pengasuhan yang stabil dan akses terhadap perawatan medis serta pendidikan yang layak. Teresita kini berwenang mengambil keputusan penting terkait pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari mereka. Meski begitu, keluarga menegaskan bahwa ini hanya bersifat sementara dan Perez berhak mengajukan permohonan kembali setelah kondisinya membaik.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan sistem hukum dalam menghadapi krisis kesehatan mental. Di Indonesia, kasus serupa sering kali menjadi pelajaran tentang perlunya deteksi dini dan akses layanan psikologis yang memadai. Masyarakat diharapkan lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental, terutama bagi mereka yang berada di bawah tekanan publik.
Menurut psikolog klinis, pemulihan dari insiden self-harm membutuhkan pendekatan holistik yang melibatkan terapi, dukungan sosial, dan pengawasan medis. "Proses ini tidak bisa dipaksakan, dan setiap individu memiliki waktu pemulihan yang berbeda," ujar seorang ahli yang enggan disebutkan namanya. Keluarga Perez tampaknya memahami hal ini dengan menolak memberikan tenggat waktu kepulangan.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana Perez akan membangun kembali kehidupannya setelah insiden ini. Apakah ia akan kembali ke dunia hiburan atau memilih menjauh dari sorotan publik? Sementara itu, anak-anaknya harus beradaptasi dengan pengasuhan baru di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. Semua pihak berharap yang terbaik untuk keluarga ini.



