Potret Restorasi Pertemukan Janda 93 Tahun dengan Suami yang Gugur di Perang Korea
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan lanjut usia di China akhirnya bisa melihat wajah suaminya yang tewas dalam Perang Korea berkat teknologi restorasi foto digital.
- Pertempuran Dongshan pada 1953 menewaskan lebih dari 1.200 prajurit, termasuk Zhang Zhixin yang meninggalkan istri tanpa foto atau keturunan.
- Kisah ini menyoroti upaya pemerintah China untuk mengembalikan identitas para pahlawan perang yang selama puluhan tahun hanya berupa nama di batu nisan.

Seorang perempuan berusia 93 tahun di Provinsi Hunan, China, akhirnya dapat bertemu kembali secara emosional dengan suami mudanya yang gugur dalam Perang Korea lebih dari tujuh dekade lalu, berkat sebuah potret hasil restorasi digital.
Zhao Cuifen, warga Liuyang, menikah dengan Zhang Zhixin pada awal 1950-an. Tak lama setelah pernikahan, Zhang mendaftar menjadi tentara. Pada Juli 1953, saat perundingan gencatan senjata Perang Korea menemui jalan buntu, pasukan Kuomintang melancarkan serangan besar-besaran ke Pulau Dongshan di lepas pantai tenggara China. Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang sedang berlatih di kota-kota terdekat dikerahkan sebagai bala bantuan. Di antara 60 prajurit dari Liuyang yang dikirim, termasuk Zhang.
Pertempuran berlangsung sengit selama 36 jam. PLA berhasil memenangkan pertempuran, namun lebih dari 1.200 prajurit tewas atau terluka. Zhang gugur di usia 20 tahun, tanpa meninggalkan anak atau foto. Zhao menangis setiap hari, namun tetap merawat orang tua Zhang. Khawatir ia tak mampu menanggung beban sendirian, mertua Zhao kemudian mengatur pernikahannya dengan sepupu Zhang. Zhao memiliki lima anak dari pernikahan kedua, tetapi tak pernah berhenti berduka atas kehilangan suami pertamanya.
Selama puluhan tahun, para martir Pertempuran Dongshan hanya dikenang sebagai nama yang terukir di batu. Sebuah makam dibangun di pulau tersebut, namun banyak keluarga kesulitan untuk berziarah. Pada Mei lalu, sebuah tim relawan dari Nanjing University of Industry Technology, didukung pemerintah Hunan, mulai merestorasi wajah para prajurit yang gugur. Dengan menggali ciri-ciri wajah kerabat, ingatan keluarga, dan catatan sejarah, tim tersebut menggunakan sketsa dan restorasi digital untuk menciptakan kembali gambar empat martir Liuyang.
Pada 24 Juni, keempat potret diserahkan kepada keluarga di Liuyang. Rekaman video menunjukkan Zhao, yang ditopang oleh orang di sekitarnya, menerima potret Zhang. Saat melihat wajah suaminya sebagai pemuda, lututnya lemas dan ia mulai terisak. Ia memanggil nama suaminya sambil menekankan kepala ke bingkai foto. Kemudian, ia berlutut di depan abu pembakaran kertas sembahyang untuk waktu yang lama. Putri bungsu Zhao mengatakan bahwa ibunya selalu kuat, dan ini baru kedua kalinya ia melihat ibunya menangis.
Anak-anak Zhao masih memanggil Zhang sebagai "Ayah Zhixin". "Mulai sekarang, Ayah Zhixin bukan lagi nama dingin di dinding pahlawan, melainkan keluarga yang bisa kami lihat, hormati, dan ingat," ujar putri kedua Zhao kepada media. Sepupu dari martir lain, Liu Xinfu, juga menghadiri upacara. Melihat potret itu, ia tak kuasa menahan tangis. "Kakak, setelah 73 tahun, akhirnya kami bisa melihat wajahmu," katanya.
Kisah ini mengingatkan pada pengorbanan jutaan prajurit dalam Perang Korea, yang bagi China merupakan perang untuk membela tanah air dan mendukung Korea Utara. Di Indonesia, konflik serupa di masa lalu juga meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Upaya restorasi identitas pahlawan seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi negara lain untuk menghargai jasa para veteran. Pertanyaannya, apakah teknologi serupa dapat digunakan untuk mengembalikan ingatan kolektif bangsa akan para pahlawan yang terlupakan?



