Perang Talenta AI China Dimulai dari Bangku Sekolah: Kamp Musim Panas hingga Gaji Rp25 Juta per Hari
Baca dalam 60 detik
- Kamp AI untuk remaja di China tumbuh pesat, dengan biaya mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah, seiring dorongan pemerintah mengintegrasikan AI ke kurikulum sekolah.
- Perusahaan teknologi seperti Ant Group dan Tencent membuka program pelatihan AI untuk anak muda, mencerminkan perburuan bakat yang semakin dini di tengah persaingan industri.
- Fenomena ini memicu kekhawatiran kesenjangan akses dan tekanan psikologis, sementara analis mempertanyakan efektivitas pendidikan AI jangka pendek.

Hangzhou, akhir Juli lalu, menjadi saksi bagaimana seorang remaja berusia 13 tahun rela menghabiskan lima hari libur musim panasnya untuk belajar kecerdasan buatan (AI) di markas Ant Group. Yu Chenhao, pelajar asal Shanghai, adalah satu dari 20 peserta kamp AI yang digelar oleh Ant Digital Technologies (Ant DT), anak usaha raksasa fintech China. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop, menyusun kode dan prompt AI, bahkan enggan berhenti saat diajak berkeliling gedung. Fenomena ini bukan sekadar tren liburan, melainkan cermin perang talenta AI yang kini dimulai sejak usia dini.
Kamp AI untuk remaja di China tumbuh subur dalam beberapa tahun terakhir. Harganya bervariasi, mulai dari beberapa ratus yuan hingga lebih dari 20.000 yuan (sekitar Rp45 juta). Pasar pendidikan AI China diproyeksikan mencapai 160 miliar yuan (US$22 miliar) pada 2027 dan mendekati 180 miliar yuan pada 2030, menurut Changjiang Securities. Pasar study tour juga diperkirakan menembus 240 miliar yuan tahun ini, dengan kamp bertema AI tumbuh lebih cepat daripada kategori tradisional. Pemerintah Beijing pun mendorong integrasi AI ke kurikulum sekolah melalui rencana aksi 'AI-plus education' yang ditargetkan rampung pada 2030.
Ant Group dan Tencent, dua raksasa teknologi China, berlomba menyelenggarakan kamp AI untuk pelajar. Ant DT menggelar Young Founders AI Camp secara gratis, tetapi hanya untuk undangan. Tencent membuka kamp liburan AI untuk siswa 13-18 tahun dengan materi manajemen produk AI, robotika, dan komputasi kuantum. Menurut Ma Wenting, kepala perencana Ant DT, program ini bukan sekadar tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan juga uji coba untuk melihat kemampuan anak-anak dalam memanfaatkan alat AI. "Sebelumnya kami merekrut insinyur. Sekarang, kami berpikir kemampuan menggunakan AI dengan baik adalah arah yang lebih tepat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa perusahaan lebih cepat mengikuti perkembangan teknologi dibanding sekolah, sehingga mereka mengisi celah pendidikan yang ada.
Perburuan bakat AI juga terlihat dari gaji fantastis. Sebuah surat tawaran magang di DeepSeek yang viral di media sosial China menyebutkan gaji harian 5.500 yuan (sekitar Rp12 juta), atau lebih dari 120.000 yuan per bulanโ19 kali lipat gaji rata-rata lulusan sarjana. Meski DeepSeek tidak mengonfirmasi, daftar lowongan mereka menunjukkan gaji magang model besar berkisar 500-1.000 yuan per hari. Fenomena ini memicu kecemasan orang tua, seperti Ma Tanyu, ibu di Beijing yang mendaftarkan anaknya ke kamp AI seharga 2.980 yuan demi membangun kepercayaan diri. Namun, tidak semua orang mampu. Qu Jialin, insinyur penerbangan dari Hangzhou, menilai kamp AI terlalu mahal untuk keluarga kelas pekerja. "Kamp AI itu mahal. Keluarga dengan gaji bulanan tidak akan mempertimbangkan ini," katanya.
Di tengah euforia, muncul kritik. Chi Boyang, pendiri Xinya AI, menilai kamp enam hari tidak cukup untuk memahami AI. Ia juga menyoroti bahwa orang tua belum berpikir jauh untuk menjadikan anaknya talenta AI. Sementara itu, analis seperti Wang Dan dari Eurasia Group mengingatkan bahwa hanya segelintir talenta yang benar-benar mendapat gaji selangit. "Ini hanya kasus terisolasi," kata Su Yue dari Economist Intelligence Unit. Ia menambahkan bahwa lulusan baru justru paling rentan terdampak AI karena pekerjaan mereka cenderung repetitif. Di sisi lain, perusahaan seperti Baidu dan Alibaba meningkatkan porsi rekrutmen AI hingga 90% dan 60% dari total lowongan, menunjukkan permintaan yang tinggi.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran penting. Meski pasar AI di Indonesia belum sebesar China, persaingan talenta digital semakin ketat. Pemerintah Indonesia tengah mendorong literasi digital, tetapi akses pendidikan AI masih terbatas di kota-kota besar. Jika tidak diantisipasi, kesenjangan keterampilan AI antara Indonesia dan negara maju akan melebar. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap memulai perburuan talenta AI sejak dini, atau akan tertinggal dalam era ekonomi digital?



