Microsoft Kembali Pangkas Karyawan: 2,5% Tenaga Kerja Terancam, Divisi Xbox Ikut Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Microsoft berencana mengurangi kurang dari 2,5% total karyawan dalam gelombang PHK terbaru yang dijadwalkan diumumkan pekan depan, menyasar divisi penjualan, konsultasi, dan Xbox.
- Langkah ini merupakan bagian dari tren efisiensi di perusahaan teknologi AS yang mengalihkan investasi besar-besaran ke infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
- Keputusan Microsoft berpotensi mempengaruhi rantai pasok komponen global dan harga konsol game di Indonesia, mengingat posisi Xbox sebagai pemain utama di pasar hiburan digital.

Microsoft dikabarkan akan kembali melakukan pemangkasan tenaga kerja secara besar-besaran dengan menyasar kurang dari 2,5 persen dari total karyawannya. Langkah ini merupakan bagian dari strategi efisiensi yang melanda sektor teknologi global, di mana perusahaan raksasa seperti Meta dan Amazon juga telah melakukan PHK massal dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut laporan Business Insider yang dikutip pada Selasa (30/6), pengumuman resmi mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) ini diperkirakan akan disampaikan paling cepat pekan depan. Meskipun Microsoft menolak berkomentar, sumber internal menyebutkan bahwa ribuan posisi akan terpengaruh, terutama di divisi penjualan, konsultasi, dan unit gaming Xbox. Langkah ini menandai gelombang PHK kedua dalam setahun terakhir setelah pada Juli 2025 perusahaan memangkas hampir 4 persen karyawannya.
Keputusan Microsoft tidak bisa dilepaskan dari tekanan untuk menekan biaya operasional di tengah perlambatan ekonomi global. Perusahaan-perusahaan teknologi besar kini berlomba mengalokasikan dana jumbo untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), yang membutuhkan investasi miliaran dolar. Meta, misalnya, telah mengumumkan pemangkasan 10 persen tenaga kerjanya tahun ini, sementara Amazon berencana menghilangkan sekitar 16.000 posisi secara global.
Yang menarik perhatian adalah nasib divisi Xbox yang menjadi salah satu sasaran utama efisiensi. Bloomberg News sebelumnya melaporkan bahwa Xbox telah menaikkan harga konsol di seluruh dunia akibat krisis komponen global yang semakin parah. Kini, Microsoft dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi restrukturisasi untuk unit gaming tersebut, termasuk kemungkinan pemisahan menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki atau bahkan spin-off. Langkah ini menunjukkan bahwa Microsoft mungkin sedang mengevaluasi kembali strategi jangka panjang di sektor hiburan yang selama ini menjadi salah satu pilar bisnisnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai pasar konsol game yang terus tumbuh, kenaikan harga Xbox dan potensi pengurangan dukungan pemasaran di kawasan Asia Tenggara dapat mempengaruhi daya saing produk Microsoft di hadapan pesaing seperti Sony PlayStation. Selain itu, PHK di perusahaan teknologi global seringkali berdampak pada rantai pasok komponen elektronik yang banyak diproduksi di Asia, termasuk Indonesia. Jika krisis komponen berlanjut, harga konsol game di dalam negeri berpotensi semakin tidak terjangkau bagi konsumen kelas menengah.
Menurut analis industri, tren PHK di sektor teknologi diperkirakan masih akan berlanjut setidaknya hingga akhir tahun ini. Perusahaan-perusahaan besar terus berupaya menyeimbangkan antara investasi AI yang mahal dengan kebutuhan untuk menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: apakah efisiensi ini akan cukup untuk mempertahankan pertumbuhan jangka panjang, atau justru mengorbankan inovasi di lini bisnis yang sudah mapan seperti gaming?



