Databricks Kantongi US$5 Miliar, Valuasi Tembus US$190 Miliar: Sinyal Pasar AI Masih Panas?
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan perangkat lunak data dan AI, Databricks, mengumumkan perolehan pendanaan segar senilai US$5 miliar yang mendorong valuasinya melonjak ke angka US$190 miliar.
- Lonjakan valuasi ini terjadi hanya enam bulan setelah putaran pendanaan sebelumnya, mencerminkan optimisme investor yang masih tinggi terhadap sektor kecerdasan buatan.
- Dana segar tersebut akan dialokasikan untuk pengembangan produk-produk kunci seperti Lakebase, Genie AI, dan Unity AI Gateway, serta memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan dengan Snowflake.

Databricks, perusahaan perangkat lunak analisis data dan kecerdasan buatan (AI) berbasis di San Francisco, mengumumkan perolehan pendanaan baru senilai US$5 miliar pada Kamis (13/8). Putaran pendanaan ini melambungkan valuasi perusahaan menjadi US$190 miliar, sebuah angka yang menegaskan bahwa gelombang investasi di sektor AI belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kabar ini datang hanya enam bulan setelah Databricks tercatat memiliki valuasi sekitar US$134 miliar. Artinya, dalam kurun waktu yang relatif singkat, nilai perusahaan melesat lebih dari 40 persen. Para analis menilai kenaikan ini tidak lepas dari permintaan pasar yang kuat terhadap perusahaan-perusahaan yang terkait dengan pengembangan AI, terutama yang menyediakan infrastruktur bagi korporasi untuk membangun dan mengelola aplikasi berbasis AI.
Putaran pendanaan terbaru ini dipimpin oleh sejumlah investor lama seperti Coatue, Blackstone, MGX, dan akun-akun yang dikelola oleh T. Rowe Price, dengan tambahan investor baru Sixth Street Growth. Masuknya investor-investor besar ini menunjukkan keyakinan mereka terhadap prospek jangka panjang Databricks, yang selama ini dikenal sebagai pesaing utama Snowflake di pasar data warehousing.
Selain pengumuman pendanaan, Databricks juga mengungkapkan kinerja keuangan yang impresif. Perusahaan mengklaim telah melampaui angka pendapatan tahunan (annualized revenue run-rate) sebesar US$7 miliar, dengan pertumbuhan pendapatan kuartal kedua mencapai lebih dari 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lebih menggembirakan lagi, perusahaan mengaku tetap berada dalam posisi arus kas positif (cash-flow positive) secara adjusted selama 12 bulan terakhir.
Didirikan pada 2013, Databricks menyediakan perangkat lunak yang membantu perusahaan menyimpan, mengelola, dan menganalisis data, sekaligus mengembangkan aplikasi AI. Produk-produk unggulannya, seperti Lakebase, Genie AI assistant, dan Unity AI Gateway, menjadi fokus utama investasi dari dana segar ini. Menurut perusahaan, Lakebase sendiri telah mencatatkan revenue run-rate di atas US$100 juta, sementara bisnis data warehousing Lakehouse-nya telah menembus US$1,5 miliar.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi relevan mengingat semakin banyaknya perusahaan lokal yang mulai mengadopsi teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi bisnis. Meskipun belum ada dampak langsung, tren ini menunjukkan bahwa investasi global di bidang AI akan terus mengalir, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga teknologi dan ketersediaan solusi AI di pasar domestik. Perusahaan-perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang data dan AI mungkin perlu memperhatikan perkembangan ini sebagai indikator arah industri.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah valuasi setinggi ini akan bertahan, terutama jika kondisi ekonomi global memburuk. Databricks sendiri dianggap sebagai kandidat kuat untuk melantai di bursa saham (IPO) dalam waktu dekat. Jika itu terjadi, akan menjadi salah satu IPO terbesar di sektor teknologi, dan bisa menjadi barometer bagi perusahaan AI lainnya.



