AirAsia Hentikan Penerbangan Langsung Singapura-Jakarta per Juli
Baca dalam 60 detik
- Indonesia AirAsia menghentikan rute langsung Singapura-Jakarta mulai Juli 2026, setelah 17 tahun beroperasi.
- Penumpang terdampak akan dialihkan melalui Kuala Lumpur sebagai bagian dari strategi optimalisasi jaringan maskapai.
- Langkah ini menandai eksodus Indonesia AirAsia dari Singapura, dengan rute Bali juga terkena dampak serupa.

Maskapai berbiaya hemat AirAsia resmi menghentikan layanan penerbangan langsung antara Singapura dan Jakarta mulai Juli mendatang. Keputusan ini diumumkan melalui situs resmi maskapai pada Selasa (30/6), menandai berakhirnya rute yang telah beroperasi selama 17 tahun oleh anak perusahaannya, Indonesia AirAsia.
Rute yang sebelumnya dilayani setiap hari dengan nomor penerbangan QZ 264 (Jakarta-Singapura) dan QZ 265 (Singapura-Jakarta) sudah tidak lagi muncul di jadwal penerbangan. Calon penumpang yang mencoba memesan tiket langsung hanya akan menemukan opsi transit di Kuala Lumpur, dengan segmen Singapura-Kuala Lumpur dioperasikan oleh AirAsia Malaysia, bukan Indonesia AirAsia.
Langkah ini bukanlah kejutan. Sejak beberapa pekan terakhir, pelanggan melaporkan penerbangan langsung mereka dialihkan melalui Kuala Lumpur. Analis penerbangan Brendan Sobie dalam unggahan LinkedIn-nya menilai pemotongan rute ini bersifat permanen. โIndonesia AirAsia telah keluar dari Singapura setelah 17 tahun,โ tulisnya.
Group CEO AirAsia X, Bo Lingam, membenarkan penyesuaian jaringan ini. Dalam pernyataannya, ia mengatakan pihaknya sedang mengoptimalkan rute dengan mengalihkan kapasitas ke jalur yang lebih kuat dan memanfaatkan konektivitas Fly-Thru melalui Kuala Lumpur. โKami terus memantau perkembangan dan menilai jadwal penerbangan berdasarkan kondisi pasar serta pola permintaan,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa penumpang yang terdampak akan diberi opsi pemulihan layanan.
Bagi pelancong Indonesia, keputusan ini berarti berkurangnya pilihan penerbangan langsung ke Singapura. Sebelumnya, selain AirAsia, rute ini juga dilayani oleh Singapore Airlines, Garuda Indonesia, dan Scoot. Dengan hengkangnya AirAsia, persaingan di rute tersebut semakin menyempit, berpotensi memengaruhi harga tiket. Di sisi lain, penguatan hub Kuala Lumpur justru menguntungkan Malaysia sebagai pintu masuk regional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah maskapai lain akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan AirAsia, atau justru tren penghentian rute pendek akan berlanjut seiring efisiensi operasional pascapandemi. Satu hal yang pasti, peta penerbangan di Asia Tenggara kembali bergeser.



