Kecelakaan Bus Rombongan Umroh di Nagreg: Satu Tewas Terjepit, Polisi Sebut Sopir Kurang Konsentrasi
Baca dalam 60 detik
- Bus PO Putra RB yang mengangkut jamaah umroh terguling di turunan Nagreg, menewaskan seorang penumpang yang sempat terjepit.
- Kecelakaan yang terjadi Jumat dini hari itu diduga dipicu oleh kelengahan pengemudi saat melintasi jalan menurun yang rawan.
- Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya audit keselamatan angkutan pariwisata, terutama pada rute berbahaya seperti Nagreg.

Kecelakaan maut kembali terjadi di jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sebuah bus yang mengangkut rombongan jamaah umroh terguling dan menabrak pagar rumah pada Jumat dini hari, menewaskan seorang penumpang yang sempat terjepit di badan kendaraan. Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan tingginya risiko kecelakaan di ruas jalan menurun yang kerap disebut 'jantung' jalur selatan Jawa Barat itu.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, mengungkapkan bahwa kecelakaan terjadi sekitar pukul 00.25 WIB. Tim penyelamat baru menerima laporan pada pukul 01.55 WIB dan langsung bergerak ke lokasi. Satu regu SAR diberangkatkan pada pukul 02.05 WIB, dan setelah tiba, mereka bersama unsur gabungan lain berupaya mengevakuasi korban yang terjepit. Korban, Lilis Sugesti (52), akhirnya berhasil dikeluarkan dari reruntuhan bus pada pukul 03.00 WIB, namun nyawanya tak tertolong. Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Cicalengka untuk penanganan lebih lanjut.
Bus dengan nomor polisi B 7858 ZAA itu diketahui membawa total 14 orang, terdiri dari awak dan penumpang. Sebanyak 13 orang selamat, sebagian di antaranya mengalami luka-luka, sementara satu orang meninggal dunia. Kanit Gakkum Satlantas Polres Bandung, Iptu Lilim, menjelaskan bahwa bus berukuran medium tersebut melaju dari arah Bandung menuju Tasikmalaya. Saat melintasi jalan menurun, pengemudi diduga kurang konsentrasi sehingga kendaraan oleng ke kanan dan menabrak tembok pagar sebuah rumah.
Kecelakaan ini menyoroti kembali persoalan keselamatan angkutan umum di Indonesia, khususnya bus pariwisata yang kerap mengangkut rombongan ibadah. Jalur Nagreg sendiri dikenal sebagai titik rawan kecelakaan karena memiliki tikungan tajam dan turunan curam. Meski telah ada jalur alternatif seperti Tol Cisumdawu, banyak bus yang masih memilih jalur lama untuk menghemat biaya atau karena keterbatasan armada. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan terhadap kelayakan kendaraan dan kesiapan pengemudi, terutama untuk perjalanan malam hari.
Polisi masih mendalami penyebab pasti kecelakaan, termasuk kemungkinan faktor kelelahan atau masalah teknis pada rem. Sementara itu, proses evakuasi dan penanganan korban telah selesai dilakukan. Operasi SAR resmi ditutup pada pukul 03.30 WIB setelah dipastikan tidak ada lagi korban yang membutuhkan pertolongan. Para korban luka telah mendapatkan perawatan medis, sementara keluarga korban meninggal telah dihubungi.
"Pada saat di jalan menurun, pengemudi kurang konsentrasi dan waspada dengan situasi yang ada di depannya sehingga kendaraan oleng ke sebelah kanan," ujar Iptu Lilim saat dikonfirmasi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para operator bus pariwisata untuk lebih mengedepankan keselamatan. Kementerian Perhubungan diharapkan dapat memperketat inspeksi keselamatan, terutama untuk bus yang melayani rute antar kota antar provinsi dengan medan berat. Pertanyaan yang muncul: akankah kecelakaan demi kecelakaan di jalur Nagreg ini akhirnya mendorong perubahan kebijakan yang lebih tegas, atau justru terus terulang karena kelalaian yang sama?



