Hawaii Siaga Darurat: Badai Tropis Lala Mengancam, Warga Diimbau Bersiap
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Hawaii mengaktifkan status darurat sebagai antisipasi dampak Badai Tropis Lala yang diprediksi menguat menjadi hurricane.
- Badai diperkirakan membawa angin kencang dan hujan ekstrem hingga 63,5 cm di Big Island, berpotensi memicu banjir dan longsor.
- Fenomena El Nino yang kuat tahun ini meningkatkan frekuensi siklon tropis di Pasifik, sejalan dengan tren perubahan iklim global.

Pemerintah negara bagian Hawaii resmi mengumumkan status darurat pada Kamis (14/8) sebagai langkah antisipasi menghadapi Badai Tropis Lala yang diprediksi akan menerjang wilayahnya akhir pekan ini. Badai yang saat ini berada di Samudra Pasifik tersebut diperkirakan akan membawa angin kencang, banjir, dan tanah longsor, terutama di Pulau Besar (Big Island).
Badan Cuaca Nasional AS (NWS) mencatat badai ini masih dalam fase penguatan, dengan kecepatan angin mencapai 80 kilometer per jam dan hembusan yang lebih kuat. Para meteorolog memperkirakan Lala akan meningkat menjadi badai kategori hurricane saat mendekati daratan. Potensi curah hujan di beberapa bagian Big Island bisa mencapai 63,5 sentimeter, angka yang cukup untuk memicu banjir bandang dan longsor di daerah berbukit.
Gubernur Hawaii, Josh Green, menandatangani deklarasi darurat sebagai respons atas ancaman ini. Langkah administratif tersebut memberikan kewenangan lebih luas kepada pemerintah untuk mengerahkan dana, sumber daya, dan personel secara cepat jika terjadi kerusakan. "Badai Tropis Lala merupakan ancaman serius bagi negara bagian kami, terutama Pulau Hawaii. Kami bertindak sekarang untuk memastikan sumber daya tersedia di tempat yang dibutuhkan," ujar Green dalam pernyataan resminya.
Green juga mengimbau seluruh warga untuk mengamankan rumah, menyiapkan perlengkapan darurat, dan meninjau kembali rencana evakuasi keluarga. "Saya meminta semua orang untuk menganggap serius badai ini dan saling menjaga satu sama lain," tambahnya. Imbauan ini disampaikan mengingat Big Island dihuni sekitar 210.000 jiwa, menjadikannya pulau terpadat kedua di Hawaii setelah Oahu yang berpenduduk lebih dari satu juta orang.
Meski jalur pasti badai masih belum dapat dipastikan, para ahli memperkirakan Lala akan bergerak di lepas pantai. Namun, potensi dampak tetap signifikan, terutama bagi wilayah pesisir yang rentan terhadap gelombang tinggi dan abrasi. Badai tropis terakhir yang secara langsung menghantam kepulauan ini terjadi pada 2018, sehingga kewaspadaan masyarakat kali ini menjadi sorotan.
Fenomena El Nino yang tahun ini tercatat lebih kuat dari biasanya turut memanaskan perairan ekuator Pasifik. Kondisi ini meningkatkan peluang terbentuknya siklon tropis di kawasan tersebut. Para meteorolog memprediksi musim badai di Pasifik akan jauh lebih aktif dibandingkan rata-rata tahunan. Sementara itu, para ilmuwan terus mengingatkan bahwa perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Bagi Indonesia, fenomena serupa menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Meski secara geografis jauh dari Hawaii, dinamika El Nino juga berdampak pada pola cuaca di Asia Tenggara, termasuk potensi kekeringan atau curah hujan ekstrem di sejumlah wilayah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengingatkan tentang potensi peningkatan siklon tropis di sekitar Indonesia akibat anomali suhu muka laut.
Langkah Hawaii yang bergerak cepat dengan deklarasi darurat dapat menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara kepulauan lain, termasuk Indonesia, dalam mengelola risiko bencana. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini dan rencana evakuasi di berbagai daerah sudah cukup adaptif menghadapi skenario cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu? Jawabannya akan menentukan seberapa siap kita menghadapi badai berikutnya.



