Gelombang Panas Picu Kebakaran Hutan di Prancis Selatan, Ribuan Dievakuasi
Baca dalam 60 detik
- Tiga titik api melalap 1.210 hektare lahan di sekitar Marseille, dengan kobaran terbesar mencapai 900 hektare di perbatasan Spanyol.
- Ombak panas Eropa yang memecahkan rekor pada akhir Juni memperparah kondisi kering, meningkatkan risiko kebakaran hutan di kawasan Mediterania.
- Prancis memperkirakan gelombang panas baru pekan depan, sementara otoritas kesehatan mencatat sekitar 1.000 kematian lebih akibat suhu ekstrem sebelumnya.

Kebakaran hutan yang dipicu oleh gelombang panas ekstrem melanda kawasan selatan Prancis, memaksa ribuan warga mengungsi dan memicu peringatan akan dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Tiga titik api utama, dua di antaranya berada di pinggiran barat Marseille, telah menghanguskan total 1.210 hektare lahan sejak Kamis (2/7), menurut Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez.
Kobaran terbesar terjadi di wilayah administratif Aude, dekat perbatasan Spanyol, dengan luas terbakar mencapai 900 hektare. Sekitar 800 petugas pemadam kebakaran dikerahkan, namun angin kencang menyulitkan upaya pengendalian. Sementara itu, api di Rognac—dekat bandara Marseille—berhasil dijinakkan, begitu pula kebakaran seluas 260 hektare di Lancon-Provence. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, namun bau asap menyengat tercium hingga ke area bandara, dan pilot salah satu pesawat yang mendarat harus meyakinkan penumpang bahwa bau tersebut bukan berasal dari mesin pesawat.
Di kota resor Fréjus, sekitar 35 kilometer dari Cannes, lebih dari 2.000 orang dievakuasi dari enam perkemahan pada Rabu (1/7) akibat kebakaran hutan di dekatnya. Langkah ini diambil sebagai antisipasi meluasnya api yang didorong oleh angin kering dan suhu tinggi. Otoritas setempat masih memantau pergerakan api dan belum mengizinkan warga kembali ke lokasi.
Gelombang panas yang melanda Eropa Barat selama lebih dari sepekan pada akhir Juni lalu menjadi pemicu utama. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sebelumnya memperingatkan bahwa suhu rekor yang mencapai 40 derajat Celsius di beberapa wilayah akan meningkatkan risiko kebakaran hutan, terutama karena kelembapan rendah dan vegetasi kering. Prancis sendiri mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah pada periode tersebut, dengan beberapa kota mengalami panas di atas 45 derajat Celsius.
Dampak gelombang panas tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kesehatan masyarakat. Otoritas kesehatan Prancis memperkirakan sekitar 1.000 kematian berlebih terjadi selama periode suhu ekstrem tersebut, terutama di kalangan lansia dan mereka yang memiliki penyakit kronis. Angka ini menjadi pengingat akan bahaya laten dari perubahan iklim yang semakin sering memicu cuaca ekstrem.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi cermin akan kerentanan negara tropis terhadap kebakaran hutan dan lahan. Meskipun penyebabnya berbeda—kebakaran di Indonesia lebih sering dipicu oleh pembukaan lahan—keduanya sama-sama diperparah oleh musim kemarau panjang yang dipengaruhi oleh fenomena iklim global. Pengalaman Prancis dalam manajemen evakuasi dan pemadaman kebakaran hutan dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia, terutama dalam hal koordinasi lintas sektor dan sistem peringatan dini.
Badan cuaca Prancis telah memperingatkan bahwa gelombang panas baru diperkirakan melanda pekan depan, meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya kebakaran. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah infrastruktur dan kesiapsiagaan negara-negara Eropa cukup untuk menghadapi musim panas yang semakin ekstrem? Ataukah ini hanya awal dari siklus bencana yang akan berulang setiap tahun?



