Tradisi 1.300 Tahun: Inuyama Rekrut Nelayan Burung Kormoran Pertama dalam 34 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Kota Inuyama, Jepang, mengangkat dua pegawai baru sebagai nelayan burung kormoran (usho) untuk pertama kalinya sejak 1992, setelah dua dari empat usho pensiun tahun lalu.
- Shobu Tahara (38) dan Kenta Kawamura (25) terpilih dari 14 pelamar untuk melanjutkan tradisi penangkapan ikan dengan burung kormoran di Sungai Kiso yang telah berlangsung 1.300 tahun.
- Rekrutmen ini menyoroti tantangan regenerasi profesi tradisional di Jepang, yang relevan dengan upaya Indonesia melestarikan budaya serupa seperti memancing dengan burung di beberapa daerah.

Kota Inuyama di Prefektur Aichi, Jepang, untuk pertama kalinya dalam 34 tahun merekrut pegawai baru sebagai nelayan burung kormoran, atau yang dikenal sebagai usho. Dua orang ditunjuk pada 1 Juli lalu untuk mengisi posisi yang merupakan satu-satunya jabatan pegawai negeri sipil di Jepang yang secara khusus menangani tradisi ini.
Shobu Tahara (38), warga asli Inuyama yang sebelumnya bekerja di bagian administrasi, dan Kenta Kawamura (25), mantan pegawai perusahaan dari Okazaki, terpilih dari 14 pelamar yang semuanya berusia 20-an hingga 30-an. Mereka akan menjalani pelatihan di bawah bimbingan usho senior dan ditargetkan debut pada musim penangkapan ikan mendatang atau setelahnya.
Tahara mengaku telah bermimpi menjadi usho selama lebih dari lima tahun, setiap kali mengajukan permohonan mutasi jabatan di kantor kota dengan mencantumkan posisi tersebut, meski sempat menganggapnya mustahil. "Saya bertekad bekerja keras untuk menyebarkan nilai tradisi ini secara efektif," ujarnya. Sementara itu, Kawamura yang terkesan dengan pengalaman menyaksikan langsung pertunjukan penangkapan ikan kormoran di Sungai Kiso menyebut kesempatan ini sebagai "sekali seumur hidup" dan berjanji akan bekerja dengan kesadaran penuh akan bobot sejarah yang diemban.
Wali Kota Inuyama, Yoshinobu Hara, yang menyerahkan surat pengangkatan pada 1 Juli, mendorong kedua pegawai baru untuk "meneruskan tradisi 1.300 tahun dan menulis babak baru bagi penangkapan ikan kormoran." Langkah ini diambil setelah dua dari empat usho yang ada pensiun pada tahun fiskal lalu, sehingga kota membutuhkan tenaga baru untuk menjaga kelangsungan tradisi yang menjadi daya tarik wisata andalan daerah tersebut.
Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, di mana tradisi menangkap ikan dengan burung—seperti di Danau Maninjau atau beberapa daerah di Sumatera—menghadapi tantangan regenerasi. Minimnya minat generasi muda, perubahan lingkungan, dan tekanan ekonomi membuat profesi ini perlahan ditinggalkan. Langkah Inuyama yang merekrut pegawai negeri khusus untuk melestarikan tradisi bisa menjadi contoh bagi pemerintah daerah di Indonesia untuk memberikan insentif dan status formal bagi pelaku budaya tradisional, sehingga warisan leluhur tidak punah.
Ke depannya, keberhasilan Tahara dan Kawamura dalam menjalankan tugas akan menjadi ujian apakah model rekrutmen formal seperti ini mampu menjaga tradisi tetap hidup di tengah arus modernisasi. Akankah kota-kota lain di Jepang, atau bahkan di Indonesia, mengikuti jejak Inuyama?



