Kasus H5N1 di Australia Bertambah, Otoritas Pastikan Risiko ke Manusia Masih Rendah
Baca dalam 60 detik
- Australia mengonfirmasi kasus kelima flu burung H5N1 pada burung laut migran di pantai selatan Australia Barat.
- Empat dari lima kasus ditemukan di Australia Barat, namun belum ada bukti penularan ke unggas domestik atau manusia.
- Otoritas Australia dan Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan mengingat jalur migrasi burung yang melintasi kawasan.

Otoritas Australia kembali mendeteksi kasus flu burung H5N1 pada burung liar, menandai temuan kelima di daratan utama sejak pertama kali muncul pertengahan Juni lalu. Meski demikian, pemerintah setempat menegaskan belum ada indikasi penularan antarpopulasi unggas maupun ke manusia.
Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Julie Collins bersama Kepala Dokter Hewan Beth Cookson mengumumkan bahwa virus terdeteksi pada seekor petrel raksasa yang ditemukan di pantai selatan Australia Barat. Burung migran tersebut diduga membawa virus dari kawasan Antartika atau Samudra Selatan.
Sejak 14 Juni, Australia telah mencatat lima kasus H5N1 di daratan utama, dengan empat di antaranya berada di Australia Barat. Sebelumnya, benua Australia menjadi satu-satunya daratan yang bebas dari strain ganas ini, yang sejak 2020 telah menyebabkan kematian jutaan burung dan hewan lain di berbagai belahan dunia.
"Semua deteksi sejauh ini hanya pada burung laut migran liar, dan tidak ada bukti penyebaran ke populasi unggas lokal," ujar Cookson dalam konferensi pers di Canberra, Selasa (30/6).
Kementerian Pertanian Australia melalui pernyataan resmi menekankan bahwa tidak ada bukti kematian massal burung liar maupun infeksi pada industri peternakan ayam. Masyarakat diminta tidak menyentuh burung sakit atau mati dan segera melapor ke otoritas setempat.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat akan ancaman flu burung yang masih mengintai. Meskipun jalur migrasi burung dari Australia ke Indonesia tidak langsung, beberapa spesies burung air diketahui terbang melintasi kawasan Asia Tenggara. Kepala Badan Karantina Pertanian Indonesia sebelumnya telah meningkatkan pengawasan terhadap unggas impor dan burung migran di wilayah timur.
Para ahli virologi menilai bahwa meskipun risiko penularan ke manusia rendah, mutasi virus H5N1 tetap perlu diwaspadai. "Kita tidak boleh lengah. Setiap kasus baru pada burung migran berarti ada peluang virus berevolusi," kata seorang peneliti dari Universitas Indonesia yang enggan disebut namanya.
Ke depan, kerja sama regional dalam pemantauan flu burung menjadi krusial. Australia dan Indonesia telah memiliki nota kesepahaman di bidang kesehatan hewan, namun implementasi di lapangan masih perlu diperkuat. Pertanyaannya, apakah sistem surveilans di Indonesia cukup siap mendeteksi dini jika virus menyebar lebih luas?



