Musim Pendakian Gunung Fuji Dibuka: Dua Jalur Baru dan Kios Pembayaran Otomatis Atasi Kerumunan
Baca dalam 60 detik
- Dua dari empat jalur pendakian Gunung Fuji resmi dibuka pada Rabu (1/7), dengan Yamanashi memasang kios pembayaran mandiri untuk mengurangi antrean.
- Langkah ini merespons lonjakan wisatawan asing dan pendaki yang tidak siap, serta gempa berkekuatan 5,6 SR yang mengguncang kawasan pegunungan pekan lalu.
- Pembukaan lebih awal dari jalur Subashiri dan sistem digitalisasi pembayaran menjadi model potensial bagi destinasi wisata alam Indonesia yang menghadapi masalah serupa.

Musim pendakian Gunung Fuji resmi dimulai Rabu (1/7) pagi, dengan dua dari empat jalur utama dibuka dan puluhan pendaki menyaksikan matahari terbit di puncak setinggi 3.776 meter. Untuk pertama kalinya, prefektur Yamanashi memasang dua kios pembayaran mandiri senilai 4.000 yen (sekitar Rp 450.000) di stasiun kelima Jalur Yoshida, guna mengurai kemacetan bagi pendaki yang belum melakukan registrasi daring.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya jumlah wisatawan asing dan kekhawatiran terhadap pendaki yang tidak siap secara fisik maupun perlengkapan. Jalur Subashiri di sisi Prefektur Shizuoka juga dibuka lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya, sementara dua jalur lainnya di sisi Shizuoka akan menyusul pada 10 Juli. Otoritas setempat juga mulai menempatkan personel patroli dan keselamatan di area puncak selama 24 jam.
Gempa bumi berkekuatan 5,6 SR yang mengguncang Yamanashi dan sekitarnya pada Jumat pekan lalu, serta dua topan kembar yang melintas dekat Jepang, tidak menyurutkan minat pendaki. Seorang staf pondok gunung di dekat puncak mengaku jumlah pendaki melebihi perkiraannya. Jasper Overall, mahasiswa asal Australia, mengaku sempat ragu pendakian akan berlangsung karena topan, tetapi lega bisa menyaksikan matahari terbit.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat sejumlah destinasi wisata alam seperti Gunung Rinjani, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru menghadapi tantangan serupa: lonjakan wisatawan, pendaki tanpa persiapan, dan kerusakan lingkungan. Sistem pembayaran digital dan registrasi daring yang diterapkan Jepang bisa menjadi referensi bagi pengelola taman nasional di Indonesia untuk mengatur kunjungan secara lebih tertib dan mengurangi antrean di lapangan.
Menurut data prefektur, jumlah pendaki di Jalur Yoshida tahun lalu meningkat 5,4 persen menjadi 121.068 orang, sementara di sisi Shizuoka justru turun 6,1 persen menjadi 84.032. Perbedaan ini menunjukkan efektivitas kebijakan pembatasan akses dan sosialisasi yang berbeda antarprefektur. Gempa bumi yang terjadi pekan lalu, dengan intensitas lower 6 pada skala seismik Jepang, tidak memicu perubahan status gunung berapi yang tetap di Level 1.
Gunung Fuji, yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO pada 2013, menarik ratusan ribu pengunjung setiap musim. Dengan sistem baru ini, Jepang berharap dapat menyeimbangkan antara pariwisata massal dan kelestarian alam. Pertanyaan besarnya: akankah destinasi wisata alam di Indonesia segera mengadopsi langkah serupa sebelum kerusakan semakin parah?



