Tragedi di Lahore: Atap Bimbingan Belajar Runtuh, 14 Anak Tewas
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 14 anak meninggal dan lima luka-luka saat atap sebuah pusat bimbingan belajar di Lahore ambruk saat perbaikan ubin berlangsung.
- Bangunan tua di kawasan padat penduduk itu diduga tidak memenuhi standar keselamatan, dua orang telah ditahan polisi untuk penyelidikan.
- Insiden ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan konstruksi di Pakistan, yang kerap memakan korban jiwa dalam kecelakaan serupa.

Atap sebuah pusat bimbingan belajar di Lahore, Pakistan timur, ambruk pada Selasa (30/6) dan menewaskan sedikitnya 14 anak serta melukai lima lainnya. Peristiwa nahas itu terjadi saat para pekerja sedang memperbaiki ubin di atas bangunan tua yang sudah rapuh tersebut.
Menurut saksi mata yang diwawancarai AFP, beban pekerja dan material reparasi diduga menjadi pemicu runtuhnya atap yang langsung menimpa puluhan anak yang sedang belajar. Korban berusia antara 4 hingga 12 tahun, demikian dikonfirmasi sumber medis. Seorang guru juga dilaporkan mengalami luka-luka.
Komisioner Lahore, Marryam Khan, menyatakan bahwa penyelidikan transparan dan tidak memihak akan segera dilakukan untuk menemukan pihak yang bertanggung jawab. Sementara itu, polisi provinsi Punjab telah menahan dua orang terkait bencana ini. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan dukacita dan memerintahkan agar korban luka mendapat perawatan medis terbaik.
Pusat bimbingan itu berlokasi di permukiman padat Basti Eid Gah, Kahna Nau, selatan Lahore. Menurut pernyataan Menteri Pendidikan Punjab, tempat tersebut adalah rumah pribadi milik seorang guru yang mengajar anak-anak dari lingkungan kurang mampu. Kondisi bangunan yang sudah tua dan tidak terawat menjadi sorotan, terutama karena aktivitas perbaikan dilakukan saat anak-anak masih berada di dalam ruangan.
Runtuhnya bangunan merupakan fenomena yang kerap terjadi di Pakistan. Negara berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa itu dikenal lemah dalam penerapan standar keselamatan konstruksi dan sering menggunakan material bangunan berkualitas rendah. Pada Juli tahun lalu, 27 orang tewas dan 10 luka-luka ketika sebuah gedung lima lantai ambruk di kawasan miskin Lyari, Karachi.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap bangunan publik, termasuk lembaga pendidikan informal. Di Tanah Air, kasus ambruknya bangunan sekolah atau tempat kursus juga pernah terjadi akibat kelalaian konstruksi. Regulasi yang ketat dan inspeksi berkala menjadi kunci untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pemerintah Pakistan benar-benar menindak tegas pelanggaran konstruksi, atau tragedi ini hanya akan menjadi catatan duka lain yang berlalu begitu saja?



