Makam Hutan di Kobe Ludes Terjual: 1.038 Pendaftar untuk 80 Kuota, Tanda Rindu Manusia pada Alam
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Kota Kobe menerima 1.038 permohonan untuk pemakaman hutan, 13 kali lipat dari kuota awal 80 jenazah, yang mencerminkan tren kembali ke alam.
- Lokasi seluas 1.200 mยฒ di Taman Hiyodorigoe ini menggunakan seluruh kawasan hutan sebagai nisan, bukan pohon individu, dan merupakan yang pertama bagi kota besar di Jepang.
- Biaya pemakaman 150.000 yen (Rp15,6 juta) dan pengelolaan berakhir setelah 50 tahun, mengembalikan lahan ke hutan alami; gelombang pendaftaran berikutnya dibuka April 2027.

Pemerintah Kota Kobe, Jepang, kewalahan menampung animo publik terhadap program pemakaman hutan (forest burial) yang baru diluncurkan. Dalam gelombang pertama pendaftaran yang dibuka Maret hingga Juni 2026, tercatat 1.038 permohonanโ13 kali lipat dari kuota awal yang hanya 80 jenazah. Fenomena ini menunjukkan kerinduan masyarakat urban untuk kembali menyatu dengan alam, bahkan setelah kematian.
Lokasi pemakaman seluas 1.200 meter persegi berada di dalam Taman Hiyodorigoe, distrik Kita. Konsepnya unik: seluruh kawasan hutan, bukan pohon tertentu, berfungsi sebagai nisan. Gaya ini disebut satoyama, lanskap pedesaan tempat manusia dan alam hidup berdampingan. Area pemakaman dibatasi tali, dilengkapi bangku, pergola, dan papan informasi. Menurut pemerintah kota, ini adalah pemakaman hutan pertama yang dikembangkan oleh kota besar di Jepang.
Dari total pendaftar, 616 orang mengajukan untuk pemakaman diri sendiri di masa depan, sementara 422 lainnya untuk jenazah yang sudah mereka miliki. Dengan demikian, putaran pertama ini telah mengisi 60% dari kapasitas total yang direncanakan sebanyak 1.600 jenazah. Pemerintah setempat menyatakan akan menerima semua pelamar yang memenuhi syarat, yaitu warga Kobe berusia 65 tahun ke atas yang telah tinggal minimal enam bulan.
Proses pemakaman dilakukan dengan cara jenazah digiling menjadi abu, lalu dikubur langsung ke tanah dengan jarak tertentu agar tidak tercampur. Pemakaman bagi pelamar yang diterima diperkirakan dimulai sekitar Oktober 2026 setelah prosedur administrasi selesai. Biaya yang dikenakan sebesar 150.000 yen (sekitar 920 dolar AS) per jenazah, dan setelah 50 tahun pengelolaan pemakaman dihentikan, lahan akan dibiarkan kembali menjadi hutan alami.
Fenomena ini menarik untuk dicermati di Indonesia, di mana lahan pemakaman di kota-kota besar semakin sempit dan mahal. Konsep pemakaman hutan seperti di Kobe bisa menjadi alternatif ramah lingkungan yang mengurangi tekanan pada lahan. Namun, tantangan regulasi dan budaya lokal, termasuk tradisi pemakaman yang beragam, perlu dipertimbangkan. Pemerintah daerah di Indonesia mungkin bisa belajar dari model Kobe yang menggabungkan aspek ekologis, ekonomis, dan spiritual.
Menurut pejabat kota Kobe, tingginya minat ini mencerminkan โketertarikan yang kuat untuk kembali ke alam.โ Pertanyaan selanjutnya adalah apakah model ini akan diadopsi oleh kota-kota lain di Jepang dan dunia, termasuk Indonesia, sebagai solusi pemakaman yang berkelanjutan. Dengan kuota berikutnya baru dibuka tahun depan, antrean panjang ini menjadi sinyal bahwa manusia modern rindu pada kesederhanaan alam, bahkan di akhir perjalanan hidup.



